Showing posts with label Pengalaman. Show all posts
Showing posts with label Pengalaman. Show all posts

Warung Kopi dan Masjid


"Telurnya sudah habis, Bang. Cuma kalau mau kali, biar saya cari telurnya dulu di warung sebelah," kata Kamil kala itu di Nabawi Resto, salah satu warung makan Indonesia di Darrasah, Kairo.

"Hana peu-peu hai. Enggak apa-apa, apalagi kalau jauh."

Sebenarnya aku dan Muhib kawanku, memang sedang ingin sekali kopi kocok telur. Namun, karena aku pernah menjadi pelayan warung makan, aku tahu bagaimana terkadang repotnya mencari barang di luar yang kadang tidak tersedia atau sulit dicari.

Terlebih telur yang dimaksud pun, bukan telur biasa. Memang bukan telur emas, tapi telur ayam kampung yang hanya dijual di tempat tertentu. Untuk menghasilkan kopi kocok yang "joss", kualitas telur pun harus bagus. Lebih bagus, kalau langsung diambil setelah keluar dari perut si ayam. Jadi, memang enggak dijual di tempat sembarangan.

"Enggak apa-apa, Kamil. Saya pesan yang lain aja," kataku

"Enggak apa-apa, Bang. Hana jioh. Dekat dari sini. Sebentar ya..." katanya dengan sangat lembut sambil berlalu pergi. Meninggalkan aku yang membatu di depan meja kasir.

"Meutuah that ureung nyoe," batinku.

Aku memang terlalu sulit untuk jatuh cinta, tapi sangat mudah tersentuh dengan kebaikan-kebaikan yang dianggap kecil bagi sebagian orang. Menurutku simple saja, orang-orang yang peka terhadap hal kecil, akan lebih mudah peka terhadap hal besar (walaupun aku sendiri bukan tipe yang pekaan).

Hal yang terjadi malam itu, langsung mengingatkanku dengan situasi tak mengenakkan yang kualami dua hari berturut-turut di masjid. 
Kejadian yang juga mengingatkanku pada sebuah postingan lama yang pernah kubaca, tentang perbandingan pelayanan petugas masjid dengan kafe. Tentang bagaimana masjid memuliakan tamu, yang kerap berbanding terbalik dengan tujuan dan fungsi masjid itu sendiri.

Dua hari sebelumnya aku menziarahi masjid Hakim bi Amrillah, salah satu masjid peninggalan era Fathimiah yang dibangun pada abad ke-11 Masehi. Selesai salat zuhur, aku langsung digiring keluar, bahkan dilarang mengambil foto dan video.

Petugas masjid memarahiku hanya karena mengambil beberapa gambar dan video. Aku disuruh keluar saat itu juga. Sedang di depanku, dua bule bersama seorang pemandu wisata asal Mesir sedang sibuk mengambil gambar menggunakan DSRL. Petugas masjid itu memberi izin kepada mereka. Aku protes.

"Eih da ya 'Am, tismah lighairil muslim dukhul masjid wa timna' muslim dukhul masjid bita'hu. Walllahi, haraaaam 'alaik ya Amm. Haram 'alaik."

Orang non-muslim dengan pakaian terbuka aurat diizinkan masuk masjid dan mengambil gambar. Sedang aku yang jelas muslim begini dilarang masuk.

"Yakhreib beit...!"

Astaqfirullah, mengapa juga aku mengumpat. Inilah jika mulut tak diberi akses ke pesantren kilat dan jarang makan asupan zikir dan ayat Al-Qur'an.

Masjid Hakim bi Amrillah. (Dok. Pribadi)

Masjid bukan tempat berdebat adu urat leher. Sebelum ia tambah marah, karena harga dirinya merasa terpukul, dengan hati penuh rasa kesal, aku memutuskan keluar.

Sehari setelahnya atau zuhur berikutnya, aku ke Masjid Aq Sunqur atau kerap disebut Masjid Biru. Masjid yang dibangun pada abad ke-14 Masehi oleh Dinasti Mamalik. Hari itu, aku pergi berdua dengan Zarqali, kawan rumahku.

Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi di sini. Awal masuk saja, kami sudah dimintai uang sebesar 20 pound atau sekitar 20 ribuan. Kami jelas menolak. Petugas masjid tetap bersikeras bahwa kami harus membayar, karena masjid tersebut menurutnya adalah tempat wisata.

"Semua masjid di Mesir ini tempat wisata, dari Masjid Al-Azhar, Husein, Amru bin Ash. Semua tempat wisata, tapi tak pernah dimintai uang masuk," kata kami. Memang, kami tahu ada masjid tertentu yang masuknya berbayar seperti Masjid Sultan Hasan dan Masjid Rifa'i.

Dengan berbagai alasan, ia tetap bersikeras bahwa kami harus bayar.

"Wallahi Amm, ihna ruh hina bas lis shalah waz ziyaarah. Mafisy ma'ana iyi fulus dilwakti. Kami pergi ke sini hanya untuk salat dan ziarah. Kami enggak bawa uang"

"Fi ma'aya khamshah geneh bas. Lau aisy da, khuz da. Sama aku cuma ada lima pound ini tok. Kalau mau, silahkan ambil ini saja," kataku lagi sambil menyerahkan lembaran lima pound kepadanya. Ia akhirnya menolak, dan memperbolehkan kami masuk dan mengambil gambar.

Masjid Aq Sunqur atau Masjid Biru. (Dok. Pribadi)

Ternyata perkara tidak berhenti di situ. Selesai salat zuhur, kami langsung diusir keluar, padahal pada saat itu, di dalam masjid masih ada rombongan wisatawan lain juga. Ia marah-marah pada kami. Berteriak dari jarak jauh agar kami keluar.

Kami ikut meninggikan suara juga. Wisatawan lain melihat ke arah kami. Kami memutuskan keluar agar tidak terjadi kegaduhan. Sebelum pulang, pemandu wisata berbisik padaku, "Kalau Kalian ingin masuk dengan nyaman besok-besok, jangan lupa kasih uang padanya."

Aku tersenyum dan mengiyakan. Hanya karena 20 pound yang tidak kami berikan, ia mengusir kami dari masjid. Betapa karena hanya uang yang tak seberapa dari mahasiswa seperti kami, ia telah menyiayiakan pahala dan keberkahan yang begitu besar.

Saat seperti inilah, aku merindukan masjid yang dikelola dengan baik. Masjid yang memuliakan tamu, seperti Kamil yang berkata lembut dan memastikan semua nyaman berada di tempatnya. Namun sayang, begitulah kondisi masjid yang kukunjungi.

Memang ada saatnya, saat kita mencintai sesuatu, tapi sesuatu yang lain yang membuat kita meninggalkannya. Kuharap ini tidak terjadi di masjid-masjid yang lain, termasuk di masjid tempat akad nikah kita nanti. 😅

Sungguh,
dulu aku sangat muak
dengan rumah suci
yang ada orang kotor
di dalamnya.

Kemudian,
aku sadar
bahwa itu
adalah diriku sendiri.



Perjalanan Sidang Masa Covid-19



Pertengahan Februari, saya mendaftar sidang. Awal atau pertengahan bulan selanjutnya atau Maret, saya harusnya bisa langsung mengikuti proses sidang. Disebabkan pandemik corona, sidang yang awalnya akan berlangsung pada Maret, kemudian diundur ke waktu yang tak pasti. Setelahnya, setiap dua minggu sekali, saya sering mengunjungi kampus, bertanya kapan bisa dinikahkan. Eh maksud saya, kapan bisa disidangkan. Tak ada jawaban pasti dari kampus. Mesir pun saat itu masih bergulat dengan peraturan baru demi mencegah Covid-19 terus menyebar. 

Juni kemarin, saya mendapat kabar baik, kampus membuka kelonggaran akademik, terutama bagi mahasiswa yang sidangnya sempat tertunda. Setelah berembuk sama pembimbing dan pihak akademik, diputuskan hari sidang saya tanggal 6 Juli. Alhamdulillah pikir saya. Namun, saat mau membayar uang sidang, kampus mengeluarkan peraturan baru bahwa segala aktivitas akademik ditunda lagi. Sidang saya pastinya ditunda juga dong. 😭

Pada 6 Juli, pihak akademik mengatakan bahwa sidang saya bisa diganti pada tanggal 26 Juli. Namun lagi-lagi nasib baik belum memihak, sidang saya terpaksa ditunda untuk kali ke sekian. Ya elah Maemunah, ini kampus kok plin plan begini. Satu hari ia kata rindu si A, besok ia bilang suka si B, besoknya lagi ngomong cinta si C, tahu-tahunya malah nikahin si Z. Tolong, ini kampus, apa buaya...? 😭

"Gara-gara pandemik corona, saya berada di waktu yang tidak tepat dan di tempat yang salah."

Menunggu sidang

Nah, alhamdulillah pada tanggal 9 Agustus kemarin, akhirnya tesis saya bisa disidangkan dan dengan hasil jayyid jiddan (baik sekali). Hasil yang sebenarnya sudah saya duga. Menurut pembimbing, sebenarnya saya belum bisa disidangkan karena tesis masih memiliki banyak kekurangan dan pembimbing belum memeriksanya secara keseluruhan sekali lagi sebelum diperbolehkan untuk naik sidang.

"Duktur, saya harus daftar sidang bulan dua ini, jika mendaftar sidang bulan tiga atau ditunda lagi, saya harus membayar uang SPP lagi, sebanyak 1200 dolar. Tolong Duktur, itu angka yang sangat besar untuk saya," ngemisku pada pembimbing di pertengahan Februari. 

"Tapi,,, tesis Kamu ini belum sempurna betul Anakku..."

1200 dolar itu bukan uang yang sedikit, jika dirupiahkan angkanya nyaris mencapai 18 juta rupiah. Harga yang cukup berharga jika ditabung untuk mahar nikah misalnya. 😂

"Maaf sekali Duktur... Saya rasa enggak masalah Duktur, masalahnya saya enggak punya uang lagi untuk bayar SPP segitu," kata saya berulangkali ke pembimbing yang akhirnya diberikan izin untuk mendaftar sidang.

Sidang tesis yang berjudul "Perempuan dan Simbolismenya dalam Puisi Mahmoud Darwish" berlangsung di Institute of Arab Research and Studies dalam suasana tertutup dengan undangan sangat terbatas. Hanya Bang Aris, Syukran, Shidqi, dan Sultan, yang menemani dan sangat membantu proses sidang tesis pada hari H.

Terima Kasih Banyak 

Saya berterima kasih banyak atas segala doa dan dukungan tak terhinggga, mulai dari ibu, ayah, adik dan kakak tercinta, yang tak berhenti berdoa dan mendukung hingga titik doa penghabisan (bahkan saat saya masih dalam kandungan). Tanpa doa mereka sungguh saya tak bisa melangkah hingga ke tahap ini. Kemudian saudara, kawan-kawan di Aceh maupun di Mesir, yang tak bisa saya sebutkan namanya satu per satu. Mulai dari yang membantu proses sidang, menelepon secara pribadi, mengirim pesan via media sosial, hingga yang berdoa dan membikin status harapan dan selamat. 

Hal-hal seperti ini adalah salah satu bagian terindah dari hidup saya sejauh ini. Bagi sebagian orang ini barangkali adalah hal sederhana, tapi bagi saya ini merupakan sebuah hal yang cukup sulit dibalas.  Hal-hal sekecil apa pun dari doa dan dukungan, yang bahkan saya sendiri tidak tahu, adalah hal yang teramat istimewa. Terima kasih banyak dan semoga Allah membalasnya dengan hal yang jauh lebih manis. 

Di antara ucapan doa dan selamat tersebut, terselib sebuah hal indah yang juga aneh di pagi hari kemarin. Sebuah pesan dari seorang kawan. Saya pikir ia ingin mengucapkan doa atau selamat kepada saya, maklum pada hari tersebut saya akan melaksanakan sidang. Namun, yang terjadi malah di luar dugaan sama sekali.

Ia malah bertanya saya pakai minyak wangi apa. 😄


Hal yang kemudian membuat hari sidangku cukup aneh lainnya adalah kue ucapan selamat dari kawan rumah dan tim KMA Tv, atas inisiatif Muhammad Syukran bekerja sama dengan A'maril Basyiriy, Fikri Aslami, Najid Akhtiar, dan Sultan. 

Jujur, saya lahir dari keluarga yang sederhana dan memegang tradisi Islam yang lumayan kental, sehingga tak pernah merayakan ulang tahun atau apa saja, dengan sesuatu yang bid'ah dhalalah seperti acara potong dan makan kue tart misalnya. 😅 

Hal ini cukup bikin saya terharu dan juga sedih pada satu waktu. Pertama, saya telah merusak budaya dan adat istiadat keluarga. Kedua, sebenarnya saya pernah sangat berharap, bahwa yang akan memberi kejutan seperti ini adalah perempuan yang saya cintai (yang barangkali untuk sekarang masih mustahil). 😅 

Ketiga dan agak membingungkan adalah, karena mereka sudah buat kejutan seperti ini, artinya apakah saya harus buat seperti ini juga untuk mereka? Sumpah ini terasa janggal sekali, bagaimana mungkin seorang Farhan Jihadi yang kaku dalam hidupnya membeli kue dan berbuat kejutan untuk kawannya (yang cowok lagi). Padahal kejutan seperti ini ingin kusimpan perdana untuk perempuan halalku nanti. 😂 
 
Seumur hidup saya tak pernah dikasih kue seperti ini dan tak pernah membeli kue ulang tahun untuk seseorang. Hal paling sederhana yang pernah saya lakukan dan bikin saya malu adalah pernah membeli jilbab pasmina sebagai hadiah untuk seorang gadis pada suatu ketika. 😅 


Terima kasih banyak atas segala hal ini, terutama untuk Muhammad Syukran yang sudah menambahkan kegembiraan berganda di hari bahagia tersebut. Saya tidak tahu harus berkata apa atau bagaimana, saya bukan tipe romantis. Jujur, akan terlalu sulit bagi saya melakukan hal seperti ini untuk orang lain, kecuali untuk perempuanku nanti. Eaaak. 😅 

Syukran melakukan hal ini dengan sangat baik, dan ini sebuah keistimewaan lain tersendiri bagi saya pribadi.

Hal yang paling sulit bagi saya adalah menulis nama orang-orang yang membantu saya dalam dua tahun menulis tesis. Terlalu banyak yang membantu hingga saya menyelesaikan tesis ini. Ada Bang Zamzami Umar bersama Muhammad Firdaus yang menjadi support system dan beberapa kali menemani saya menjumpai pembimbing dan dengan ikhlas membantu mencari bahan penulisan tesis, atau Rahmat Fadhillah yang sudi membimbing tes TOEFL hingga akhirnya bisa mencukupi nilai untuk mendaftar sidang, atau Ustaz Abdullah yang mengoreksi kesalahan tulisan bahasa Arab saya.

Terima kasih banyak kepada keluarga kecil saya di Kairo (keluarga saat saya di Kattameya dan di Husein) yang menjadi support system harian seperti Bang Mukhlis Arabi, Hendri Julian, Muhammad Firdaus, Khalid Muddatstsir, Bang Aris Munanda, Bang Saidul Umam, Bang Muzakkir Abdul Manaf, Bang Sayed Mubarak, Bang Iqbal bin Yusuf, Bang Junaidi, Bang Zamzami, Sayed Fitri Adhi, Muhammad Syukran, A'amril Basyiriy, dan Sultanul Arifin.

Sebenarnya saya tidak ingin menyebutkan satu nama pun di sini, karena terlalu banyak yang membantu dan jika ada satu nama yang terlewatkan, maka sungguh sangat keterlaluan rasanya. Sekali lagi, terima kasih banyak untuk semua dan segalanya terutama keluarga besar KMA Mesir secara umum. Semoga Allah membalas segala kebaikan sekecil apa pun dengan keberkahan dan kebaikan yang lebih besar. Amin.[]

"Sulit memang mengkaji perempuan, mampu mendapat jayyid jiddan saja, sudah bikin senang bukan kepalang. Lain cerita jika mendapatkan Kamu, dikasih nilai rasib pun, bagiku sebuah martabah syaraf ula." 😂

Mensyukuri Masakan Kiriman Seseorang


Saat seseorang memberikan makanan yang ia masak padamu, jangan pernah kita sekalipun mengeluh, terlepas bagaimana rasanya: hambar, keasinan, tidak enak, atau rasa yang dulu pernah ada.

Ia sudah memasak dengan sepenuh jiwa raga, mengorbankan uangnya, membuang waktunya yang berharga, bahkan mengorbankan perasaan dan harga dirinya jika nanti dianggap masakannya dianggap buruk atau tidak sedap.

Konon, katanya makanan mengandung filosofi kehidupan, seseorang yang memberi makanan kepada kita pastilah orang yang sangat baik, ia tidak ingin kita kelaparan, bahkan memasukkan berbagai bahan bergizi dan penuh nutrisi agar kita selalu sehat. Bebeda kalau yang masak adalah racun, kan itu tidaklah mungkin, kecuali kalau kita adalah pejuang Hak Asasi Manusia (HAM), seperti Munir misalnya.

Nah, oleh karenanya jangan pernah mengeluh saat seseorang memasak untukmu, yang mesti kita lakukan adalah bersyukur bagaimanapun rasanya. Bersyukur bahwa seseorang begitu perhatian, bersyukur kita bisa mengenyangkan cacing di perut, bersyukur bisa menambah gizi.

Jika makanan itu diperoleh dari harta baik lagi halal, dan ia memberikannya dengan ikhlas, maka keberkahannya pun berganda. Bahkan kata Imam Asy-Syafii, "Makanan orang shaleh adalah obat".

Tahu, kan? Tidak mudah bagi seseorang untuk memasak bagi orang lain, apalagi bagi seorang perempuan. Banyak sekali hal yang ia pikirkan tentang makanannya.

Oleh karena itu, jika memang tidak suka, Kamu boleh memberi makanannya padaku, plus berikan juga nomor hp-nya kalau ia perempuan. Walau tidak pandai, aku juga ingin memasak sesekali untuknya, kalau bisa selamanya pun enggak apa-apa. 😅
Cara terbaik bersyukur atas masakan seseorang adalah dengan mengucapkan hamdallah, menikmatinya, lalu berterima kasih, agar besok-besok ia mau memasak lagi.😅

Perempuan yang Tertawa Ngakak

Tumpuk tengah. (Dok. Pribadi)
Aku sedang di dapur saat sekelompok perempuan dari negeri entah-berentah tiba, lalu masuk ke ruangan khusus akhwat. Saat itu, aku sedang membantu di Cairo Resto, salah satu warung makan milik mahasiswa Indonesia yang cukup terkenal di kawasan Darrasah, Kairo.

Di samping terkenal dengan bumbu rempah yang kuat, warung ini juga terkenal dengan "Warung buka sebulan, tutup setahun". Slogan ini disematkan pelanggan yang kecewa lantaran sering tutup dapur.

"Salah satu ciri-ciri warung makan yang sukses memang seperti ini, buka sesuka dengkul. Bagai hidup enggan, mati tak mau. Kalau saja bukan karena makanan di sini terlalu nikmat, orang-orang barangkali sudah melupakannya."

Bagi perempuan pencinta kuliner dengan rempah yang kuat, sekaligus ingin tempat yang sedikit punya privasi, Cairo Resto adalah jawaban terbaik. Warung makan ini menyediakan ruangan khusus perempuan yang pintunya bisa dikunci dari dalam. Masalahnya, ruangan ini punya satu kekurangan: tidak kedap suara. 

Tak berapa lama, setelah mereka masuk, terdengar suara tawa menggelegar. Tawa yang menggetarkan gendang telingaku dan dinding dapur. Aku nyaris memegang dadaku, aku khawatir jantung di dalamnya ikut bergetar.

Bagi sebagian orang, barangkali risih mendengar suara "rusuh" seperti ini atau setidaknya mempertanyakan "Perempuan kok ketawanya seperti ini?", aku malah tertarik. Mereka seperti punya inner beauty yang hanya dilepaskan di saat tertentu. 

Adapun yang kemudian membuatku tersentuh adalah mereka melakukan apa yang dikenal dengan "tumpuk tengah" usai makan. Mereka mengumpulkan piring makan mereka, lalu menumpuknya di tengah dengan sangat rapi. 

Sebenarnya, bukan kali ini saja aku melihat hal seperti ini. Pelanggan perempuan memang biasanya lebih peka terhadap pemilik atau pelayan warung makan, mereka terbiasa menyusun sendiri piring sisa makanan mereka, lalu menumpuk rapi di tengah. 

Aku selalu mudah tersentuh dengan hal-hal kecil yang dianggap sederhana bagi orang lain, seperti tumpuk tengah ini misalnya. Lalu, bagaimana dengan masalah ngobrol keras ngalor ngidul cang panah dan suara tawa ngakak hingga ke mana-mana? 

Hmmm, sebenarnya bagiku tidak terlalu masalah, toh mereka tidak sedang berada di perpustakaan, masjid, atau di rumah mertua. Mereka juga tidak tertawa di depan depan lawan jenis, hanya di ruangan khusus tertutup di antara sesama mereka. Jarang-jarang mereka berkumpul bersama, sehingga mereka tertawa seperti ini. Ini rasanya adalah tawa yang mahal dan tak mudah didapatkan. 

Jujur, memang walaupun kita sering melakukannya, baik laki-laki atau perempuan, tertawa berlebihan memang tidak dianjurkan dalam Islam. Seorang ustaz menjelaskan bahwa hukum tertawa sendiri juga bersifat sangat kondisional.

Di mana ia tertawa? Apakah tawanya menyakiti orang lain? Siapa yang tertawa? Apakah ia sudah punya calon atau belum? Kalau belum, siapa namanya? Berapa nomor hp-nya? Bolehkah aku mengenalnya lebih dalam dan menjumpai orang tuanya? Lalu mari kita tertawa bersama hingga tua.[]

Tawar Menawar Harga di Klinik Gigi

(Gigi Rahmat sedang diperiksa oleh Dokter Ahmad Abdurrahman)
"Sub'u miyah li sinnain. Dua gigi 700 pound," katanya sambil menghisap rokok elektronik di ruang yang di dalamnya terdapat alat-alat operasi gigi.

"Janganlah 700 pound, Dokter. Kami mahasiswa. 300 pound aja," kata Rahmat.

Ada-ada saja, kami minta kurang lebih dari setangah harga yang ditawarkan. Proses tawar mengingatkan pada ibuku saat meminta kurang harga baju di  Pasar Aceh. Pokoknya kalau belanja, kita harus minta kurang lebih setengah harga, dan nampaknya Rahmat sedang menerapkan prinsip ibuku yang barangkali juga ibunya. Aku sebenarnya agak heran, baru kali ini di sebuah klinik kesehatan kita bisa menawar harga seperti ini. 

"Hahahaha. La. La. Tidak bisa," kata dokter.

"Ihna fakir ya Duktur, wa huwa yatim. Kami ini fakir dan lihat kawanku itu, dia anak yatim," kata Rahmat lagi sambil menunjuk Martunis. Rahmat agaknya mulai keterlaluan, untuk apa ia membawa status yatim Martunis. Beruntung, ia tidak membawa-bawa namaku dengan berkata, "Lihat juga ini, Dokter, kawanku yang menyedihkan belum menikah. Kasihanilah kami, Dokter".

Rahmat dan Martunis ingin menambal dua giginya. Berbeda dengan Martunis, Rahmat ingin menambal gigi untuk istrinya. Katanya agar leluasa beribadah. Aku tak berani menanyakan lebih lanjut pada Rahmat tentang ibadah apa yang ia maksud. Aku hanya berusaha paham saja, tugasku hanya menemani saja, tidak lebih. 

"Ma'alaisy ya, Duktur. Kami mahasiswa Indonesia. Kami ini miskin, tidak seperti mahasiswa Malaysia. Mereka kaya-kaya. Untuk kami empat ratus pound saja," kataku ikut menawar harga dengan membawa identitas negara lain. Siapa tahu doi luluh, soalnya mahasiswa tetangga itu terkenal kaya raya, sedang mahasiswa Indonesia sebaliknya. 

"Masyi, dua gigi empat ratus pound," katanya s
etelah tertawa terbahak-bahak.

Dokter gigi yang membuka klinik di daerah Hayy Sabik ini memang sedikit kocak. Selama proses tawar menawar harga, beberapa kali doi bercanda dan tertawa terbahak-bahak. Aku sampai ragu, ini dokter apa pelawak atau jangan-jangan ia punya kerja sambilan sebagai stand-up comedy.

Setelah memutuskan harga, Martunis kemudian mengeluh kepada kami bahwa ia punya gigi geraham satu lagi yang juga berlobang dan perlu ditambal juga. Ia memutuskan harga 700 pound, dan kami kembali melakukan tawar menawar harga sehingga tiga gigi menjadi 500 pound. 

Harga ini termasuk murah, bahkan cukup murah dibandingkan dengan mahasiswa lain yang juga pernah menambal gigi di sini. Salah satu kawan kami, pernah menambal satu buah gigi di sini dengan harga 400 pound. Coba bandingkan dengan kawan kami Martunis yang menambal tiga gigi dengan harga 500 pound. Kan lumayan sekali bisa menghemat beberapa ratus pound. 

Hal yang paling penting ketika berinteraksi jual beli atau jasa dengan orang Mesir adalah tawar menawar harga. Yah, kalau aku mencintaimu itu enggak boleh ada tawar menawar lagi: udah mutlak i love you. Paling kalau boleh, nanti kita tawar menawar jumlah mahar aja.

Kita ini mahasiswa rantau, dan bukan orang kaya, hingga proses tawar harga adalah sebuah keharusan. Kalau ada musa'adah diburu, kalau lihat harga ditawar. Ini adalah rumus hidup di perantauan. Hal ini termasuk saat kita ke klinik dokter. Misalnya saja di klinik Dokter Gigi Ahmad Abdurrahman. Klinik ini tidak memiliki harga khusus. Harganya tergantung mood dan proses tawar yang kita lakukan. 

Walau begitu, bukan berarti klinik ini malayani pasien dengan asal. Klinik ini cukup terkenal di kalangan mahasiswa asing dan sejauh ini semua proses operasi yang berkaitan dengan gigi dijalankan dengan cukup profesional. 

"Enggak perlu ragu, Bang. Beliau alumni Cambridge University dan magister di Ain Syam University. Bukan kaleng-kaleng, lah," kata Rahmat meyakinkanku dan Martunis. 

"Yang betol, Mat. Kalau Cambridge abal-abal atau kalau beliau sering bolos kuliah pas mata kuliah praktek gigi, gimana? Nanti udah malapraktik pula?" 

"Tenang, Bang. Apa Abang enggak lihat. Coba lihat kepalanya tu. Masih muda udah gudul setengah. Itu salah satu bukti bahwa beliau banyak sekali belajar," kata Rahmat. Aku hanya tertawa. Geuthat peh tem kiraju.[]