Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Warung Kopi dan Masjid


"Telurnya sudah habis, Bang. Cuma kalau mau kali, biar saya cari telurnya dulu di warung sebelah," kata Kamil kala itu di Nabawi Resto, salah satu warung makan Indonesia di Darrasah, Kairo.

"Hana peu-peu hai. Enggak apa-apa, apalagi kalau jauh."

Sebenarnya aku dan Muhib kawanku, memang sedang ingin sekali kopi kocok telur. Namun, karena aku pernah menjadi pelayan warung makan, aku tahu bagaimana terkadang repotnya mencari barang di luar yang kadang tidak tersedia atau sulit dicari.

Terlebih telur yang dimaksud pun, bukan telur biasa. Memang bukan telur emas, tapi telur ayam kampung yang hanya dijual di tempat tertentu. Untuk menghasilkan kopi kocok yang "joss", kualitas telur pun harus bagus. Lebih bagus, kalau langsung diambil setelah keluar dari perut si ayam. Jadi, memang enggak dijual di tempat sembarangan.

"Enggak apa-apa, Kamil. Saya pesan yang lain aja," kataku

"Enggak apa-apa, Bang. Hana jioh. Dekat dari sini. Sebentar ya..." katanya dengan sangat lembut sambil berlalu pergi. Meninggalkan aku yang membatu di depan meja kasir.

"Meutuah that ureung nyoe," batinku.

Aku memang terlalu sulit untuk jatuh cinta, tapi sangat mudah tersentuh dengan kebaikan-kebaikan yang dianggap kecil bagi sebagian orang. Menurutku simple saja, orang-orang yang peka terhadap hal kecil, akan lebih mudah peka terhadap hal besar (walaupun aku sendiri bukan tipe yang pekaan).

Hal yang terjadi malam itu, langsung mengingatkanku dengan situasi tak mengenakkan yang kualami dua hari berturut-turut di masjid. 
Kejadian yang juga mengingatkanku pada sebuah postingan lama yang pernah kubaca, tentang perbandingan pelayanan petugas masjid dengan kafe. Tentang bagaimana masjid memuliakan tamu, yang kerap berbanding terbalik dengan tujuan dan fungsi masjid itu sendiri.

Dua hari sebelumnya aku menziarahi masjid Hakim bi Amrillah, salah satu masjid peninggalan era Fathimiah yang dibangun pada abad ke-11 Masehi. Selesai salat zuhur, aku langsung digiring keluar, bahkan dilarang mengambil foto dan video.

Petugas masjid memarahiku hanya karena mengambil beberapa gambar dan video. Aku disuruh keluar saat itu juga. Sedang di depanku, dua bule bersama seorang pemandu wisata asal Mesir sedang sibuk mengambil gambar menggunakan DSRL. Petugas masjid itu memberi izin kepada mereka. Aku protes.

"Eih da ya 'Am, tismah lighairil muslim dukhul masjid wa timna' muslim dukhul masjid bita'hu. Walllahi, haraaaam 'alaik ya Amm. Haram 'alaik."

Orang non-muslim dengan pakaian terbuka aurat diizinkan masuk masjid dan mengambil gambar. Sedang aku yang jelas muslim begini dilarang masuk.

"Yakhreib beit...!"

Astaqfirullah, mengapa juga aku mengumpat. Inilah jika mulut tak diberi akses ke pesantren kilat dan jarang makan asupan zikir dan ayat Al-Qur'an.

Masjid Hakim bi Amrillah. (Dok. Pribadi)

Masjid bukan tempat berdebat adu urat leher. Sebelum ia tambah marah, karena harga dirinya merasa terpukul, dengan hati penuh rasa kesal, aku memutuskan keluar.

Sehari setelahnya atau zuhur berikutnya, aku ke Masjid Aq Sunqur atau kerap disebut Masjid Biru. Masjid yang dibangun pada abad ke-14 Masehi oleh Dinasti Mamalik. Hari itu, aku pergi berdua dengan Zarqali, kawan rumahku.

Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi di sini. Awal masuk saja, kami sudah dimintai uang sebesar 20 pound atau sekitar 20 ribuan. Kami jelas menolak. Petugas masjid tetap bersikeras bahwa kami harus membayar, karena masjid tersebut menurutnya adalah tempat wisata.

"Semua masjid di Mesir ini tempat wisata, dari Masjid Al-Azhar, Husein, Amru bin Ash. Semua tempat wisata, tapi tak pernah dimintai uang masuk," kata kami. Memang, kami tahu ada masjid tertentu yang masuknya berbayar seperti Masjid Sultan Hasan dan Masjid Rifa'i.

Dengan berbagai alasan, ia tetap bersikeras bahwa kami harus bayar.

"Wallahi Amm, ihna ruh hina bas lis shalah waz ziyaarah. Mafisy ma'ana iyi fulus dilwakti. Kami pergi ke sini hanya untuk salat dan ziarah. Kami enggak bawa uang"

"Fi ma'aya khamshah geneh bas. Lau aisy da, khuz da. Sama aku cuma ada lima pound ini tok. Kalau mau, silahkan ambil ini saja," kataku lagi sambil menyerahkan lembaran lima pound kepadanya. Ia akhirnya menolak, dan memperbolehkan kami masuk dan mengambil gambar.

Masjid Aq Sunqur atau Masjid Biru. (Dok. Pribadi)

Ternyata perkara tidak berhenti di situ. Selesai salat zuhur, kami langsung diusir keluar, padahal pada saat itu, di dalam masjid masih ada rombongan wisatawan lain juga. Ia marah-marah pada kami. Berteriak dari jarak jauh agar kami keluar.

Kami ikut meninggikan suara juga. Wisatawan lain melihat ke arah kami. Kami memutuskan keluar agar tidak terjadi kegaduhan. Sebelum pulang, pemandu wisata berbisik padaku, "Kalau Kalian ingin masuk dengan nyaman besok-besok, jangan lupa kasih uang padanya."

Aku tersenyum dan mengiyakan. Hanya karena 20 pound yang tidak kami berikan, ia mengusir kami dari masjid. Betapa karena hanya uang yang tak seberapa dari mahasiswa seperti kami, ia telah menyiayiakan pahala dan keberkahan yang begitu besar.

Saat seperti inilah, aku merindukan masjid yang dikelola dengan baik. Masjid yang memuliakan tamu, seperti Kamil yang berkata lembut dan memastikan semua nyaman berada di tempatnya. Namun sayang, begitulah kondisi masjid yang kukunjungi.

Memang ada saatnya, saat kita mencintai sesuatu, tapi sesuatu yang lain yang membuat kita meninggalkannya. Kuharap ini tidak terjadi di masjid-masjid yang lain, termasuk di masjid tempat akad nikah kita nanti. 😅

Sungguh,
dulu aku sangat muak
dengan rumah suci
yang ada orang kotor
di dalamnya.

Kemudian,
aku sadar
bahwa itu
adalah diriku sendiri.



Benarkah Kita Sedang Menyembah Tuhan?

Masjid Al-Azhar Kairo, Mesir. (Dok. pribadi)

Aku mencari tuhan, katanya saat ini tuhan sedang top trending dan marak dijualbelikan. Aku buru-buru ke pasar, berharap masih tersisa satu tuhan untukku. Sayang sekali, kata pedagang, tuhan sudah laris terjual. Apa aku harus menunggu stok terbaru, barangkali ada edisi terbaru?

"Tunggu... tunggu... " 

"Siapa yang memborong Tuhan-tuhan itu, Paman?" tanyaku. 

"Hahahaa. Banyak sekali. Mereka, orang-orang sepertimu, yang ingin punya tuhannya masing-masing. Namun, mereka tidak ingin menyembah tuhan itu, orang-orang hanya ingin memperbudak tuhan-tuhan itu, ingin tuhan mengikuti nafsu mereka."

"Hati-hati, Paman. Maksudnya Anda bagaimana?" 

"Hahahaa. Mereka ingin tuhan membenci, seperti orang-orang. Mereka ingin tuhan mencaci-maki, melaknat, dan mengkafirkan orang-orang, bahkan ingin tuhan membunuh untuk diri mereka. Dengan membeli tuhan, mereka berharap bisa memonopoli akhirat, ingin tuhan hanya memasukkan dirinya saja ke surga. Dengan membeli tuhan, mereka merasa mewakili tuhan atas dunia dan akhirat."

"Keterlaluan sekali mereka...!" 

"Hahahaa, munafik sekali Kau anak muda. Bukankah Kau juga datang untuk membeli tuhan untuk mengenyangkan nafsumu? Apa bedanya Kau dengan mereka?" 

Aku dibuat kaku terdiam. Aku benar-benar dihantam dengan pukulan keras. Malu sekali rasanya. Tanpa sadar aku adalah bagian dari orang-orang ini juga, atau jangan-jangan mereka adalah aku, atau aku adalah mereka. 

"Lantas, mengapa Anda menjual tuhan-tuhan itu?" 

"Hahahaa... Kau pikir, Tuhan itu pemain bola. Tuhan tak bisa diperdagangkan. Tuhan Maha Pengasih lagi Penyayang, tak bisa disuruh-suruh, apalagi untuk melaknat dan membunuh. Tuhan bisa memuliakan orang-orang yang kita benci. Tuhan mampu memasukkan siapa saja ke surga, termasuk orang-orang yang kita kafirkan. Tuhan sangat benci orang-orang yang mengatasnamakan nama-Nya untuk berbuat nista dan aniaya."

"Baik, aku sedikit mengerti, tapi ini sama sekali tidak menjelaskan tuhan-tuhan yang Anda jual?" 

"Sudah kubilang, aku tidak menjual Tuhan. Aku hanya menjual berhala. Mereka yang bodoh mengiranya itu Tuhan. Selama ini mereka hanya menyembah berhala dan nafsu mereka sendiri yang disangkanya Tuhan. Hahahaa."

"Semoga Allah memberi kita hidayah, mengampuni kita semua, dan mematikan kita dalam keadaan husnul khatimah."[]

Catatan:
Kisah ini terinspirasi dari film India berjudul PK dengan cerita dan narasi yang berbeda.




Di depan orang-orang,
Kusebut-sebut asma Tuhan,
Kugombali Tuhan di Keramaian.

Saat sendirian,
Saat hanya bersama Tuhan,
Malah kusembah setan-setan.

@farhanjihadi
Kairo, 12.6.2020

Masjid dan Para Wisatawan Non-Muslim di Masjid al-Azhar Mesir

Para wisatawan di dalam masjid al-Azhar. (Foto: Dok. pribadi)
Malam kemarin, ketika mau salat magrib, aku melihat sekelompok wisatawan asing yang berwajah Eropa sedang mendengar seseorang menjelaskan sesuatu di ruang tengah terbuka di dalam masjid al-Azhar. Mereka terlihat khusyuk mendengar penjelasan dari pemuda itu.  Wisatawan asing masuk ke masjid Al-Azhar, yang perempuan diberikan kain dan jilbab untuk menutup aurat. belajar tentang sejarah masjid, berdiskusi sejarah Islam, dan melihat fungsi masjid sesungguhnya.


Aku hanya melihat mereka sekilas, lalu bergegas ke menuju saf salat. Ini sebenarnya bukan fragmen langka. Beberapa masjid di Mesir memang membuka diri untuk dikunjungi wisatawan, termasuk para wisatawan non-muslim. Mereka biasanya diberi penjelasan tentang sejarah masjid, Mesir, dan yang paling penting mengenal langsung Islam dari rumah Tuhan, tempat rahman dan rahim Allah disyiarkan dengan hebat.

Jauh ribuan tahun sebelumnya, Rasulullah Saw. juga pernah melakukan hal yang sama. Pada suatu hari, Rasulullah Saw. menjamu umat Kristiani dari Najran. Rasulullah Saw. mengajak mereka berdiskusi tentang agama dan ketuhanan. Ketika waktu sembahyang tiba, mereka meminta izin untuk melakukan ibadah di masjid. Para sahabat sempat protes. Namun, Rasulullah Saw. mempersilahkan mereka salat di dalam masjid Nabawi. Usai salat, Rasulullah Saw. kembali berdiskusi dengan lembut dengan mereka.

Pada April 2017 lalu, terjadi peledakan bom di gereja Mar Girgis, Tanta, Mesir. Bom meledak di tengah-tengah umat Kristen Koptik yang sedang beribadah. Korban tewas mencapai 28 jiwa, dan mecederai sedikitnya 70-an orang. Sebuah masjid berdekatan dengan gereja langsung membuka posko kesehatan untuk korban bom di gereja. Umat muslim datang untuk mendonorkan darah bagi korban peledakan bom.

Per hari ini, untuk menangkal aksi islamophobia, masjid-masjid di Eropa mulai membuka pintu yang luasa bagi pemeluk agama lain untuk masuk dan melihat masjid dari dalam. Mereka membuat program wisata dengan tema mengunjungi masjid. Setiap non-muslim diperbolehkan masuk masjid, berdiskusi, bahkan berdebat tentang agama dan ketuhanan.

Rumah ibadah seperti masjid seharusnya memang seperti ini, membuka diri seluas-luasnya kepada semua orang, agar kampanye rahmat dan rahim Allah, tidak hanya terkurung di komunitas muslim. Namun, juga menyebar ke luar, seluas-luasnya.

Menjadi muslim bukan berarti menghilangkan jiwa kemanusiaan terhadap pemeluk agama lain dan menutup diri dari pergaulan sosial. Masjid sudah seharusnya dikembalikan kepada fungsi utamanya, menyebarkan kebaikan dan keberkahan ke semua manusia. Kita tak pernah tahu, barangkali Allah memberi hidayah kepada para wisatawan non-muslim yang berkunjung Al-Azhar melalui masjid dan penjelasan ramah kita tentang Islam.[]

Tentang Kita

(Image:leaderonomics.com)
Apa kabar Sayang? Sudah lama aku tak mendengar kebisingan. Dari mulutmu yang terus mengoceh dan tak bisa Kamu tahan. Suara bising yang menenangkan. Bahana yang menyejukkan. Sebuah riuh yang saat ini cukup kurindukan. Apa kabar embun pagi di seberang? Masihkah sejuk dan menyegarkan?


Bagaimana foto terakhir kita di pintu gerbang sebuah bandara yang kita ambil malu-malu? Masihkah seringkah Kamu memandangnya, lalu berharap aku pulang segera? 

Aku selalu ingat, saat itu Kamu berkata, "Wajah kita mungkin akan menua, tapi di dalam foto ini, kita selalu muda dan bahagia". Lalu Kujawab, "Bahwa biarpun kita menua, tapi perasaanku padamu tetap sama. Tidak ada yang akan berubah, selain bertambah kuat".

Lalu kita mengaminkannya bersama.

Oh ya, aku ingin sedikit bercerita. Di sebuah ruangan yang luas, beberapa waktu lalu akhirnya aku disidang. Seperti biasa, Keluarga Aceh di sini selalu siap disibukkan, siap membantu melebihi yang diminta. Mengambil foto, video, dan bahkan mereka menyiapkan makanan untuk para undangan, jumlahnya tak tanggung-tanggung: ratusan. 

Namun sayang, entah mengapa jumlah yang hadir pada saat itu tidak sampai setengahnya saja. Padahal, aku ingat saat kita dulu masih tinggal berdua di sini, saat jumlah kita tidak sampai dua ratusan, seluruh ruangan penuh, hingga meluap ke luar, ke lorong-lorong, hingga ke jalanan. 

Sekarang jumlah kita lima ratusan, tapi sayangnya jumlah kursi yang terisi tak sampai setengah. Aku sempat sedih, tapi lantas berpikir jernih. Mungkin saja banyak yang sedang sibuk kuliah, talaqqi, atau sibuk yang lain. Mahasiswa sekarang memang punya terlalu kesibukan yang bermacam-macam, termasuk sibuk berdemonstrasi menuntut perubahan reformasi atau apalah namanya. Waktu yang mereka punya seakan tidak cukup.

Kondisi sekarang sudah berbeda seperti saat kita tiba di Mesir dulu. Dibandingkan duku, sekarang alhamdulillah sudah banyak mahasiswa yang berani lanjut S2 di sini. Mereka adalah calon-calon tokoh masyarakat dan pemuka agama ke depan.

Lihat saja, dalam satu bulan ada beberapa sidang munaqasyah. Dulu, Kamu tentu ingat, dalam satu tahun saja, belum tentu ada satu mahasiswa kita yang munaqasyah. Sekarang, sebentar-sebentar sidang, sebentar-sebentar munaqasyah, sebentar-sebentar selesai kuliah. Barangkali, hal ini juga membuat orang-orang mulai bosan menghadiri hal yang sama terus menerus. Berbeda sepertiku yang tidak pernah bosan merindukanmu.

Bukan hanya sidang sebenarnya, saat ada acara samadiyah pun orang-orang kayaknya sudah malas datang. Sepertinya, orang hanya datang jika yang terkena musibah adalah orang yang dia kenal atau orang terdekatnya saja. Selebihnya, aku hanya melihat ruang yang terlalu banyak menyisakan celah kosong. Padahal dulu, kenal enggak kenal, jika ada acara samadiyah selalu ramai orang-orang berdatangan.

Semoga asumsiku ini tidak benar. Sebenarnya aku tidak percaya bahwa rasa sosial kita sudah tergerus dan berkurang. Mungkin Kamu ingat kasus mahasiswa Aceh yang sakit dan akhirnya meninggal kemarin. Aku nyaris menangis melihat semangat sosial mahasiswa Aceh di sini. Ini belum termasuk dukungan dari berbagai pihak baik dari Aceh atau pun luar.

Aku lihat sendiri, bagaimana rumah sakit selalu penuh siang-malam. Ramai sekali yang datang. Sampai-sampai petugas rumah sakit menegur beberapa kali. Siang malam mereka berjaga menemani orang sakit. Perempuan-perempuan Aceh pun tanpa diminta membuat piket khusus masak. Tiap hari, tiga kali sehari mereka memasak untuk dibawa ke rumah sakit. Kami tak pernah kekurangan makanan di rumah sakit. Semua bahu-membahu membantu apa yang bisa dibantu. Di sinilah aku merasa bahwa penting sekali kita punya keluarga, apalagi di saat tengah krisis seperti ini.

Kuharap rasa sosial dan kebersamaan sebagai keluarga ini terus terjaga, sebagaimana kita yang selalu menjaga cinta kita ini.

Terus terang, memang banyak yang sudah berubah sejak Kamu pulang tiga tahun yang lalu, dan meninggalkanku bertarung sendirian di sini. Banyak yang sudah berubah, atau mungkin umurku yang memang sudah terlalu usang. Aku berharap dan berdoa ini perubahan ke arah yang baik. 

Seorang kawanku yang juga akan disidang berubah lebih jauh lagi. Bukannya takut saat disidang tidak ada yang datang. Ia malah berniat tidak mengundang siapa pun dalam sidang munaqasyah. Ia akan sidang sendirian, tanpa suporter. Alasannya sederhana dan masuk akal juga tampaknya.

"Ini ruang sidang. Ini persidangan, bukan mau nonton bola, enggak perlu pakek suporter. Aku nanti tidak akan mengundang siapa pun," katanya tegas. Menarik juga idenya ini. Sangat kreatif pikirku. 

Mengundang atau tidak mengundang saat sidang munaqasyah bukanlah masalah bagiku. Bahkan, jika yang datang tidak banyak juga bukanlah sesuatu yang harus ditangisi. Banyak hal yang jauh lebih penting yang perlu dipikirkan, melihatmu tertawa gembira misalnya. 

Pun seperti tadi, tidak mengapa juga walau tidak banyak yang bisa tidak datang ketika munaqasyah, toh aku tahu mereka punya prioritas lebih penting. Aku yakin mereka juga mendoakanku untuk meraih nilai terbaik. Yah, buktinya saja, dalam persidangan yang berlangsung lima jam itu, aku memperoleh predikat mumtaz. Ini berkat doa orangtua, doamu di sepertiga malam, dan juga doa-doa mereka.

Namun, bukan mumtaz yang membuatku terlalu bahagia, bahkan ingin berteriak, jarak kita yang semakin dekat membuatku menangis bahagia setelah sidang usai. Sabar sebentar lagi, aku memang akan segera pulang. Rasa rindu sedang memberontak di tubuhku, ingin segera keluar dan memeluk buah hati kita. Aku kangen aroma tubuhnya yang mungil itu. 

Seperti kataku tempo dulu, "Adalah jarak, musuh utama rasa bosan. Cinta memang mengharuskan kerinduan. Namun, apabila hati sudah memantapkan pilihan, semua bisa memenangkan pertarungan. Tak akan ada kehilangan. Pada orang-orang optimis, jarak adalah kekuatan." 

Seperti biasa, setiap hari, jangan berhenti bersuara, walau hanya ucapan selamat pagi atau malam. Nanti, jika tak kuat menahan rasa, pejamkan mata, lalu tatap foto kita saat bersama. Ingat, selalu ada cinta di sana.[]

Note:
Bukan kisahku, dan sudah diposting beberapa bulan yang lalu di salah satu akun media sosial milikku.

Sinai dan Perasaan yang Tertinggal

Di puncak Sinai (Foto: Nurul Hadi)
"Berjalanlah kamu di muka bumi ini." Inilah redaksi yang digunakan Allah dalam beberapa Al-Quran terkait rihlah, dalam konteks "agar kita lebih bersyukur dan lebih dekat dengan Allah."

Beberapa hari yang lalu, aku mengikuti rihlah rohani bersama Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir ke Gunung Sinai, tempatnya Nabi Musa As menerima wahyu dari Allah Swt. Kami juga menyempatkan diri berziarah ke makam Nabi Harun As dan Nabi Saleh As.

Sebuah perjalanan selayaknya memang harus berorientasi niat lillahi ta'ala, mensyukuri, men-tadabburi penciptaan alam, menelusuri nilai historis yang bisa "mengakrabkan" diri kepada Allah.

Di samping itu, sebuah perjalanan juga menjadi ajang mengakrabkan diri dengan sesama dan mengeratkan rasa persaudaran. Bahkan kerap kali, sebuah perjalanan mampu melengketkan hubungan bilateral antara dua orang yang saling mencintai. Nah, yang terakhir ini, jika kita berada di posisi sebagai saksi cinta mereka, tentu sangat menyakitkan.

Nahasnya, ketika berada di puncak dan saat menuruni Gunung Sinai, aku sempat berada di posisi ini. "Dan rasanya tahu enggak gimana...?" Sakit banget, bagai diiris-iris sembilu, lalu disiram kuah asam pedas (ini sih malah enak jadinya).



Di puncak Sinai, awalnya aku memang asyik sendiri, hanyut dalam sunrise yang indah. Menikmati sinar mentari menyapu wajah. Aku bahkan tidak menggubris ajakan berfoto bersama bareng KMA di sudut lain.


Keasyikan sendiri ini ternyata sekejap saja. Hanya sesaat. Kemudian pandanganku tertuju pada beberapa pasangan bulek cantikyang entah dari manaberfoto layaknya pengantin baru. Saling merangkul, dan sebagian lagi kulihat saling merekatkan pipi dengan manja. Pikiranku terbang tinggi ke atas, lalu jatuh menghantam bumi, pedih. Sunrise yang indah itu tiba-tiba jadi basi, aku menelan ludah. Pahit ternyata.

Aku akhirnya memilih menghibur diri, mencoba menjauh dari bulek-bulek tak berperasaan ini. Aku berjumpa ketua panitia rihlah Zulfahmi, aku ingin mengajaknya berfoto bersama sekali lagi bareng rombongan KMA.

"Maaf Bang, kami baru saja berfoto bareng. Anak-anak sebagian sudah turun. Kalau ingin berfoto lagi silahkan. Ini spanduk rihlah kita."

"Ya udah enggak apa-apa," ujarku sambil berlalu.

Masak aku harus berfoto sendiri pakek spanduk 2 meter. Bisa-bisa bulek-bulek sok romantis tadi meledekku. "Coba lihat, sial banget pemuda itu. Sudah sendiri disuruh endorse spanduk lagi. Pasti berat banget hidup dia." Aku tentu tidak mau menjadi bahan tertawaan dan lelucon gara-gara spanduk ini.

Aku khawatir saja, seandainya aku berfoto sendiri dengan spanduk yang bertulis Bahasa Indonesia "Rihlah Keluarga Mahasiswa Aceh" bisa-bisa diartikan absurd sama bulek-bulek sok romantis itu dengan misalnya "I am single, I am very happy." Kan ini keterlaluan banget ya. Aku tidak mau dituduh sedang menghibur diri dengan ungkapan norak sepeti itu. Jika ingin memilih ungkapan, aku akan memilih ungkapan yang lebih bergengsi seperti, "I am single, I am sick." Sakit jiwa.

Dari rombongan KMA Tour the Sinai, aku termasuk orang yang turun terakhir dari puncak. Awalnya, aku turun bareng Keluarga Malaysia. Ternyata hal sial belum lepas dariku, di depanku ternyata ada pasangan muda yang juga sedang turun. Ini pasti pasangan muda yang tak jauh berbeda dari bulek-bulek tadi. Aku ingin segera melewati mereka, tapi jalurnya terlalu sempit. Aku harus bersabar dan mencari-cari celah. Perasaanku benar-benar enggak enak.

"Abang, pelan-pelan... Abang hati-hati... Abang, tangganya licin," pesan perempuannya dengan suara dibuat lembut dan manja. Mereka berpegangan tangan. Terkadang berfoto selfie. Aku kayak orang begok di situ. "Ya Allah, semoga mereka tergelincir, semoga mereka jatuh." Buru-buru aku harus beristigfar bekali-kali setelah sempat terlintas doa terkutuk ini. Aku menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya. "Sabar Farhan, sabar..."

"Ustad, boleh minta foto tak?" Pemuda Melayu itu mengiba padaku.

"Boleh Ustad..." Aku terpaksa mengambil foto romantis mereka, dengan menutup mata.

"Sudah Ustad," kataku sambil mengembalikan hp-nya. Mereka melihat hasilnya.

"Kepalanya tak ade Ustad, boleh tak minta foto sekali lagi?" Aku mengangguk. Setelah mengambil foto mereka, aku bergegas turun, menyusul rombongan terakhir Keluarga Mahasiswa Aceh. Aku mencoba menjauh sejauh-jauhnya dari Melayu tak peka itu. Aku belum tahan banting. Hati dan perasaanku belum kuat.
Belajar dari sini, ternyata sebuah perjalanan juga bisa menghasilkan sebuah perasaan yang terlalu sulit dilupakan. Dan sialannya perasaan yang sulit kulupakat itu ya seperti ini. Hari itu, saat tiba di kaki Gunung Sinai, Pidi Baiq seakan-akan berteriak padaku, "Kan sudah kubilang, jomblo itu berat, Kamu enggak sanggup!"[]

Baca juga: Hikayat Yakhrib Beit