Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Sampai Mati?


Sebungkus rokok masih tergeletak di balik tumpukan baju di lemari pakaian milikku. Semula ketika aku membelinya di warung Bang Edi--warung Indonesia yang juga menjual rokok hasil cengkeh petani Nusantara, aku ingin menghisapnya di atap apartemen. Aku ingin menghabiskan sebungkus rokok itu tepat di malam pernikahanmu. Malam pernikahan yang seharusnya menjadi milik kita. 


Kujelaskan padamu Cinta, semenjak kamu melarangku merokok, aku bersusah payah menahan nafsuku untuk menegak asap beracun itu. Tiga bulan aku berusaha, dan nyaris gagal. Kalau bukan karena dorongan dan rasa cinta yang kumiliki, aku tidak bisa melakukannya.

Setiap kulihat gambar menakutkan tertempel di bungkusan rokok itu, selalu terlukis wajah manis seorang perempuan yang berkata, "Sudahlah Bang, jangan merokok lagi. Enggak baik untuk kesehatan, " atau saat kamu berkata hal yang paling konyol yang pernah kudengar dari seorang gadis sepertimu, "Apa aku merokok juga, Bang? Biar kita sama-sama menjadi pasangan perokok nanti."

Oktober tahun lalu, aku terbaring sakit sebulan di atas kasur. Aku tidak tahu sedang menderita apa, kadang pusing, kadang mual-mual, kadang muntah, penyakit yang enggak pernah kutahu datang dari mana. Aku memeriksakan diri ke dokter, katanya asam lambungku naik. Aku terlalu banyak pikiran. Aku terlalu banyak memikirkan kita. 

Segala penyakit itu ada kaitannya pesan yang kamu kirim, bahwa kamu akan melakukan ijab qabul beberapa hari lagi. Semenjak itulah, otakku kehilangan keseimbangan.

Malam-malam gelap dan kesedihan menghampiriku di atas kasur. Kata kawan-kawan, tubuhku sakit dan mereka mendoakan sebuah kesembuhan. Tidak. Tubuhku tidak sakit, hanya saja perasaanku tercabik-cabik. Orang-orang menganggapku tertawa, jauh di dalam, aku porak-poranda. Namun, aku seperti tidak merasakan apapun. Hanya ada sesuatu yang sangat sakit di bagian dada. 

Tujuh tahun lalu, kamu merampas hati yang bersemayam di tubuhku. Sepotong hati berisi segenap perasaan dan dunia yang kumiliki. Kamu bilang ingin menyimpannya di dalam tubuhmu, di dalam rumahmu. 

Dua tahun setelah itu, tepat sebulan aku ingin berangkat ke sini, aku memberanikan diri ke rumahmu, meminta hatiku kembali. Namun, orang tuamu, dengan berbagai alasan mencampakkanku dengan hina. Aku diceramahi habis-habisan bagai seorang pendosa besar. Tidak banyak yang kuingat,  selain pengangguran tak pantas mendapatkan kepemilikan apapun katanya. 

Bahkan setelah aku berkata bahwa hal yang kuinginkan di dunia ini adalah kamu. Pun aku tahu, kamu menginginkanku. Namun, sebuah takdir di telapak orang tuamu telah menampar dunia yang sudah kita bina dua tahun. Takdir memisahkan kita, memisahkan aku dengan hati yang telah kamu rampas. 

Hari itu, aku seolah telah kehilangan segalanya. Malamnya, aku kembali merokok. Setiap kuhembuskan asap rokok, titahmu terus terngiang di kepalaku: jangan merokok lagi Bang! Malam itu semakin aku mengingatmu, semakin banyak rokok yang kuhabiskan.

Apa salahku? Aku hanya menuntut hakku, hatiku yang kau rampas dikembalikan. Mereka malah membeliku sepotong hati palsu yang entah dibeli dari mana. Hati rapuh yang mungkin saja dibeli dengan harga murah di Pasar Aceh, seribu dapat tiga. Hati yang tak pernah mampu menggantikan hati yang telah kau rampas itu. 

Mulutku menghembuskan asap, sedang mataku terlalu lelah melelehkan air mata. Hingga menjelang Subuh, aku menghabiskan dua bungkus rokok. Aku duduk di pinggir sungai bagai orang kehilangan dunia. Malam itu kuputuskan, aku menerima kenyataan bahwa dunia ini memang bukan ditakdirkan menjadi milik kita.

Hari itu mungkin adalah hari terburuk bagi hubungan kita. Walau begitu, sampai sekarang pun aku tak pernah menyalahkanmu. Aku tahu, bukan hanya aku yang menggila, kamu juga menghabiskan air mata, mungkin hingga air mata kering. Kisah kita terpaksa selesai di tangan orang yang berharga di matamu. Di tangan orang yang kita harapkan mampu menyatukan kita. Tak ada gunanya membangun harapan, jika semesta berkehendak menghancurkannya. 

Setelah kejadian itu, aku memilih terbang ke tempat baru dengan hati yang diamuk kepedihan. Seharusnya kita terbang ke sini berdua, seperti janjiku padamu.

Ada baiknya aku memilih menjauh dari semua kepedihan. Setidaknya aku tidak berada di tempat yang sama dengan hati asliku berada. Setidaknya dengan hati palsu pemberian orang tuamu, seorang pun tak bisa lagi menyakitiku. Oleh karenanya, terkadang aku bersyukur, keluargamu telah menyumbangku hati murahan ini, hati yang tak bisa merasakan apa pun. Termasuk benci, termasuk cinta. 

Hingga akhirnya, Oktober tahun lalu. Aku melihat foto pernikahanmu di sebuah mesjid terkenal di kotamu. Di saat itu, hati imitasi ini terbakar dan hancur bersama tubuhku. Sebulan aku terbaring di sudut kamar yang gelap. 

Hati itu menggrogoti apa saja. Ia naik ke otakku, dari otak ia turun ke lambungku memainkan zat asam di dalamnya hingga aku pun muntah berhari-hari, hingga lemas. Bersama seorang teman, aku ke salah seorang dokter di sini. Katanya aku mengalami gejala asam lambung. Ia menyarankanku agar makan teratur dan istirahat yang cukup. 

Ia yang seorang dokter yang telah mengobati banyak orang pun tak cukup lihai untuk tahu, bahwa yang sakit bukan di lambung, tapi di hati. Bahkan kawan serumah denganku tak paham apa-apa, karena memang tak penting juga bercerita tentang luka yang menyakitkan. 

Dalam sebulan itu aku terus memikirkan kisah cinta sederhana kita. Memikirkan hari-hari indah yang membuat hatiku terbang ke puncak nirwana. Membuatnya meresapi seluruh kebahagiaan selama dua tahun lebih, yang seorang pun tak tahu. 

Jika saja aku pemuda bajingan yang tak terima mantap kekasihnya menikahi pemuda lain, sudah kuunggah foto dan video percintaan kita dahulu. Aku ingat seorang bajingan memposting sebuah foto tanpa busana mantan kekasih, gara-gara ia menikahi gadis lain. Aku juga ingat bajingan lain yang menyebarkan video percintaan mereka di atas ranjang. Sangat menjijikkan. 

Tahukah kamu, saat tahun lalu saat aku pulang, aku duduk di sebuah kedai kopi di pinggiran sungai. Dari meja samping, kudengar sekelompok pemuda sedang menelanjangi seorang perempuan. Kata-kata busuk mereka masih kuingat. 

"Doi katanya udah berhijab. Bla... Bla... Bla..." 

"Berhijab apanya, dia itu wanita murahan. Dia pacaran dengan banyak laki-laki. Sama lakinya itu sempat di bawa ke Sabang, berdua. Ngapain aja mereka coba. Masak main Ludo berdua di Sabang," kata yang lain. 

Aku memang bukan laki-laki baik seperti kata orang tuamu, tapi aku bukan laki-laki bajingan seperti mereka. Bagiku, hanya laki-laki jahannam saja yang menyebarkan aib dirinya dan kekasihnya seperti itu. Bisa jadi kekasihnya sudah bertaubat dari segala hal menjijikkan itu, tapi mereka malah menyebarkannya begitu saja tanpa rasa malu.

Oh ya, aku lupa satu hal. Kamu perempuan baik-baik. Aku terkadang bingung mendefinisikan arti pacaran yang kita lakukan berdua selama dua tahun lebih itu. Kita bukan hanya tak saling menyentuh tangan, bahkan kita tak pernah jalan berboncengan berdua. 

Kita duduk di warung yang sama, tapi kamu malah memilih duduk di meja berbeda. Kita hanya mengobrol dan bercanda via pesan hp. Hal yang cukup konyol kurasa yang pernah dilakukan oleh dua orang yang saling jatuh cinta. Jika mengingat-ingat hal ini, aku kerap tertawa, apa hanya kita pasangan yang berpacaran dengan seabsurd ini?

Aku masih ingat tatkala kita duduk di pelataran Mesjid Raya Baiturrahman. Kamu bersandar di tiang mesjid dengan hijab ungu kesukaanmu yang berkibar ditiup angin. Kita hanya berbicara via pesan di hp. 

Kamu menatap menara mesjid yang menjulang di depan, aku malah memilih menatapmu. Arsitektur mesjid dan menara di depan itu kalah indah dengan arsitektur parasmu. Hari itu kuploklamirkan dengan tempo secepat-cepatnya bahwa warna ungu adalah warna kecintaanku yang tak bisa diganggu gugat. 

Di depan mesjid itu juga, kamu pernah mengujiku dengan pertanyaan aneh.

"Bang, kalau menara itu rubuh dan mau menimpaku, apa yang Kamu lakukan...?" tanyamu saat itu. 

"Bukan apa yang aku lakukan, tapi apa yang kita lakukan bersama, karena menara itu pasti menimpa kita berdua."

"Jadi, apa yang kita lakukan Bang..." 

"Lari adalah satu-satunya solusi. Masak aku harus menahan menara itu. Aku kan bukan Superman. Kacamatanya iya, mirip dikit." Kita pun tertawa bersama. 

Kenangan manis itu buyar saat aku mengingat kembali kejadian di rumahmu dan foto ijab qabul itu. Hatiku kembali diamuk kehancuran. Kupikir aku sudah melupakan segalanya, tapi aku salah.

Potongan hati palsu pemberian orang tuamu sepertinya membawa sial. Sebuah hati yang mati. Aku iri, banyak laki-laki bisa mencintai banyak wanita dalam satu waktu, tapi aku bahkan tak mampu memikirkan wanita lain, selain kamu. 

Awal Januari, bulan lalu kamu mengirim undangan pesta nikah via Facebook. Apa yang harus aku lakukan, selain memberi ucapan selamat berbahagia. Sebuah ucapan yang menyakitkan di dunia penuh sandiwara ini.

Aku memutuskan berhenti membuka Facebook untuk waktu tak terhingga. Pertengahan Januari, menjelang pesta pernikahanmu, aku menghabiskan hari-hari menziarahi berbagai tempat di sini, menghabiskan waktu di pantai berburu kerang, berdoa di berbagai makam ulama, dan tertawa bersama kawan-kawan.

Mereka tak tahu apa-apa tentangku. Mereka hanya melihatku tertawa, tapi di dalam sesuatu telah hancur. Kali ini hati palsu yang diberikan orang tuamu pun telah hancur. Aku hanya orang malang di dunia penuh kisah kehancuran ini. Aku tak bisa merasakan apa pun lagi, tidak benci, apalagi cinta, tidak kepada dunia, tidak kepada siapa pun wanita.

Mungkinkah di dunia ini ada orang yang hanya mencintai seorang seumur hidupnya sampai mati? Entahlah. Aku sudah terlalu lelah. Semoga kamu hidup bahagia dan beranak-pinak dengan banyak. Salam untuk orang tuamu, katakan bahwa aku tak pernah membenci orang yang telah melahirkanmu.

Setelah melewati semua proses menyakitkan ini, aku paham satu hal bahwa hati adalah bagian terpenting makhluk hidup yang tak boleh disia-sialan. Terima kasih atas pengalaman berharga ini. Dari sini aku juga mulai menyadari, semua hati harusnya mencintai satu hal: Allah.[]

Note: hanya kisah fiksi. 


Rokok yang Membelenggu Duka

(Image: merdeka.com)
Orang-orang yang duduk di sana menatapku tajam, dengan biji mata menjengkelkan. Sorot mata penuh benci. Aku hanyalah wanita biasa yang terjebak dalam fatamorgana dunia. Orang-orang barangkali melihatku dengan pandangan najis dan hina, hanya karena batang rokok yang menghiasi bibirku. Seperti saat ini. 

Aku hanyalah wanita dalam luka dan laku yang tak pernah kau tahu. Kau mungkin juga akan memandangku rendahan seperti laki-laki atau wanita sok alim di seberang yang sedang berbisik-bisik sambil memandang sinis ke arahku. Tak apa. Biarkanlah! Dunia ini memang tak pernah asyik jika tak mengomentari orang lain. Barangkali mereka menganggap orang lain sebagai objek yang penuh cacat, hingga layak untuk dikata-katai. 


Tak semua rahasia hidupku perlu kuungkapkan padamu. Tak perlu! Aku juga tak perlu belas kasihmu itu. Kasihanilah dirimu sendiri yang selalu asyik dengan dunia orang lain, sehingga lupa dengan dunia sendiri. Biarlah aku dengan duniaku dan Kamu dengan duniamu itu. 

Sedikit kuceritakan. Saat ini, di depanku, seorang laki-laki sedang menasihatiku. Bukan tatapan penuh benci seperti orang-orang itu. Ia menatapku dengan lembut. Ada keteduhan dalam sorot matanya. 

"Dara, Kamu enggak bisa begini terus. Sejak kejadian itu, Kamu terus berubah. Menyiksa diri dengan cara tidak benar." 

"Dara, dia sudah lama meninggal. Mengapa Kamu tidak membuka hati untuk laki-laki lain yang mungkin lebih baik darinya." Dari tadi, ia terus mengoceh saja. Sedang aku masih nikmat mengalirkan asap penuh nikotin ke paru-paru. Untuk sementara, hanya laki-laki di depanku inilah yang mengerti lukaku. Namun, aku terkejut, baru kali ini ia berbicara tentang menikah lagi. Aku tertawa. 

"Mana ada yang mau dengan wanita kotor perokok sepertiku." 

"Siapa bilang Kamu wanita kotor. Aku ini sahabatmu. Kita sudah berteman sejak SD. Kita bertetangga hingga sekarang. Aku jelas lebih tahu tentangmu. Kamu tidak pernah sekalipun melakukan hal-hal yang haram, selain merokok ini misalnya, atau mungkin jalan denganku. Tak pernah kulihat Kamu berjalan dengan laki lain selain almarhum suamimu itu.” 

“Cukup, aku ini bukan wanita baik-baik yang diidamkan laki-laki dan mertua.” 

“Kata ibumu, Kamu tak pernah meninggalkan shalat. Bahkan terkadang menangis sendiri dalam doa. Kamu masih setia dengan balutan jelbab merah jambu ini. Dan Kamu selalu saja manis saat memakainya.” 

Benar kata Arif, aku tak pernah meninggalkan shalat. Benar juga kata Arif, aku seringkali menangis dalam doa. Meskipun begitu, aku tidak tahu, entah mengapa sepertinya imanku terlalu kecil. Di satu sisi, aku menggantungkan hidupku pada Allah. Di sisi lain, aku melampiaskan segala perasaanku pada rokok, sesuatu yang dibenci Allah. 

Gara-gara rokok ini juga aku dihina banyak orang. Entah mengapa mereka suka sekali berkomentar, “Pakek hijab kok merokok, copot aja jilbabnya.” Sedih sekali rasaya. Mereka bukannya menasehatiku baik-baik, malah menyuruhku mendurhakai Allah. Seperti kataku tadi, sudahlah! Mereka tak paham derita yang kualami. Biarlah hanya ibu, Arif dan orang-orang terdekatku saja yang tahu. 

“Jangan ngawur jadi cowok, tunjukkan satu laki-laki yang bisa mencintai wanita perokok dan mau menjadikannya istri?” Aku tertawa, kata-kata penghiburnya kali ini kurang laku. 

“Matamu saja yang telah buta. Masa lalu yang pahit itu telah membutakan matamu sehingga tidak bisa lagi melihat laki-laki yang sangat mencintaimu ada di depanmu yang amat mencintaimu dari dulu.” 

Sudah lama sejak ditinggal mati calon suamiku dalam sebuah kecelakaan, aku hidup dalam dunia yang tak kukenali lagi. Hanya rokok dan Arif yang biasa menemani hari-hariku dan membuat pikiranku sedikit tenang. 

“Jangan ngawur, Ris.” 

Aku terdiam, lalu tersenyum sinis. Aku yakin dia sedang bercanda, namun hatiku tetap saja berguncang dengan kata-kata dan sorot matanya yang serius itu. Sudah lama sekali aku berteman dengannya, baru hari ini aku melihatnya berbicara seserius ini. 

“Kamu tahu, aku tak pernah berbohong.” 

Aku masih terdiam. Kata-katanya menghujam tajam di palung terdalam hatiku. Suara Arif seolah-olah sedang mengangkat duka berkarat yang terjebak di dalam palung itu. Entah mengapa, sore ini ia terlalu serius. Sebenarnya aku kurang menyukai orang-orang terlalu kaku dan serius. Ini bukan seperti Arif yang kukenal. 

“Bagiku, tak mengapa jika Kamu terus merokok seperti itu, aku tetap akan mencintaimu. Kamu tahu aku tak bisa merokok. Tapi, hari ini juga aku akan mulai merokok, menghisap rokok yang sama denganmu.” 

“Jika Kamu mau, aku ingin membina rumah tangga dengan gadis perokok sepertimu,” katanya lagi sambil menyodorkan sebuah kotak mini merah jambu berbentuk hati di atas meja, tepat di depanku. Arif lalu mengambil sebatang rokok milikku dan menyalakannya. Ia langsung batuk ditarikan pertama. 

Aku tertawa, tapi tak kusangka, air mataku jatuh saat itu. Menetes di atas kotak rokok yang isinya masih tersisa setengah itu. Air mata ini juga jatuh menyiram seluruh duka di hatiku. Aku menyapu air mata ini dengan ujung jilbabku. Aku terdiam sejenak. 

“Sudahlah Rif, jangan dipaksakan. Jika hari ini Kau memutuskan untuk merokok, maka aku akan berhenti merokok mulai hari ini. Aku juga tidak ingin bibir yang akan kupakai mengecupmu dan anak-anak kita nanti berbau nikotin seperti ini. Aku tak ingin keluarga kita nanti menjadi keluarga tembakau, keluarga perokok.” 

“Apa itu artinya Kamu menerimaku, Dara?” Aku tersenyum dan mengangguk. Sedang air mata ini terus jatuh. 

“Kok enggak Kau buka kotak ini, Rif?” Aku heran, biasanya laki-laki yang membuka kotak berbentuk love yang biasanya berisi cincin di dalamnya ini. Lalu agar terkesan romantis, cincin itu dipasangkan ke calon istrinya nanti. 

“Bukalah… Aku bukan tipe laki-laki romantis seperti Dilan atau Rangga.” Ia tertawa. 

Aku kemudian mengambil kotak mini berbentuk hati di atas meja dan membukanya. Kotaknya kosong, tak ada isinya walau hanya cincin. Apa itu artinya ia tidak akan memasangkan cincin itu? Atau jangan-jangan ia menyembunyikannya di saku celananya? 

"Kok enggak ada isinya Ris...?" 

“Isinya ada sama orang tua aku, nanti biar mereka aja yang ke rumahmu. Jumpa sesama orang tua. Tunangan dulu nanti atau langsung nikah. Biar resmi dan syar'i katanya. Kamu juga kan pasti enggak mau tanggamu kupegang. Bukan mahram.” Arif tertawa. Aku juga terbawa suasana dan ikut tertawa. Sia-sia saja rasanya air mata yang terlanjur tumpah ini. 

“Aku maunya sih kita langsung nikah aja,” kataku. 

“Dara, Kamu tahu enggak. Kenapa saat tunangan biasanya ada cincinnya?” 

“Biar ikatannya agak resmi. Itu semacam simbol ikatannya sudah sedikit kuat, walaupun belum resmi nikah.” 

“Benar, namun di balik semua itu. Cincin kan bentuknya lingkaran, artinya ini ikatan yang enggak ada ujungnya. Ikatan yang abadi saat dua manusia setuju untuk mengikat kontrak hidup bersama hingga akhir. Nah, makanya dalam Islam sangat dilarang mengganggu tunangan orang lain, apalagi merebutnya kayak di film AADC 2. Rangga di situ benar-benar keterlaluan. Makanya aku sangat benci melihat peran Rangga seperti itu.” 

“Hahahaa… Iya juga” 

“Kamu tahu enggak, Dara. Cinta itu seperti nikotin. Kita dibuatnya ketagihan. Sama seperti saat ini. Setelah hari ini mungkin aku akan kecanduan untuk terus mencintaimu.” 

Angin sore ini menyapu wajahku yang mungkin terlihat malu-malu di hadapan Arif. Baru kali ini rasanya ia membuatku malu dan bahagia sekaligus seperti ini. Sore ini, Arif telah menyadarkanku bagaimana caranya berdamai dengan masa lalu. Bagaimana memulai hidup baru, tentu bukan dengan melampiaskannya ke hal negatif sepertiku yang menghisap rokok. Rokok tak mampu membuatmu lebih baik, malah lebih buruk.[]

Penggoda

Gambar: Google
Apa aku bahagia? Apakah aku sedih? Entahlah. Tapi satu hal yang pasti, aku mencintainya. Setengah abad lebih telah kuhabisan waktu bersama dirinya atau setidaknya dulu aku pernah terlalu mencintainya. Namun, kini ada sejenis keraguan mulai menyelinap ke hatiku melalui rongga-rongga kepingan kenangan. Dulu, jika ada yang bertanya apa aku mencintainya? Spontan lidahku menjawab cepat tanpa spasi, aku memang jatuh hati padanya.

"Apa Kamu mencintainya?" Aku bingung menjawab hal seperti ini, aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Pikiran dan hatiku masih belum satu pendapat. Benarlah kata mereka, cinta bisa membuat orang cerdas menjadi bodoh, membuat orang bodoh menjadi gila. Membuat orang gila bagai makhluk tak bernyawa.

Aku seperti berjodoh sejak kecil dengan dirinya. Masih terekam dalam memori ingatanku, saat pertama mengenalnya. Hatiku menjerit, awalnya memang aku tidak begitu suka dengannya. Saat pertama mengenalnya pikiranku masih jernih, seolah bisa membaca tanda-tanda batiniyah. Ada bagian kecil hatiku berbisik bahwa dibalik wajah cantiknya ia menyimpan kebusukan.

Ia selalu punya cara agar aku tetap jatuh hati padanya. Ia memang cantik, punya daya tarik. Siapapun yang melihat pasti terpana, hanya orang tertentu yang bisa menjaga diri untuk tidak terpikat dengannya. Semula aku mengira akan bertahan dalam godaannya. Dugaanku salah, aku terjerembab dalam lautan asmara cinta dengannya.

"Meskipun cantik, Kamu harus hati-hati dengannya. Jangan terlalu mencintainya. Jangan sampai Kamu terbuai hingga mabuk kepayang mencintainya hingga melupakan segalanya, Nak," begitulah kata ibu saat melihatku mulai dekat dengannya. Saat itu aku belumlah benar-benar jatuh cinta padanya. Ibu hanya khawatir aku terjerumus kedalam cinta yang membutakan, hingga terpelosok ke dalam hal tidak baik.

Dasar, entah bagaimana firasat seorang ibu itu selalu saja benar. Tak lama setelah itu, aku benar-benar terlena, tergoda. Aku mabuk kepayang dengan cintanya, setiap waktuku kehabisan bersamanya. Kecantikan dan rayuannya membuatku tak berdaya. Ia bukan hanya cantik, setiap ucapan yang keluar dari mulutnya begitu indah. Ia punya daya pikat multi dimensi, bukan hanya akal, nuraniku juga terkadang hilang saat bersamanya.

Namanya Nia, paras cantik melekat di wajahnya. Tutur katanya lembut, menghanyutkan setiap telinga. Jika ia berjalan, semua panca indera seolah menjadi satu, terpaku pada kecantikannya. Harus kuakui, hampir tidak ada yang tidak mencintainya. Hari ini aku telah memploklamirkan diri bahwa aku termasuk salah seorang diantara mereka.

Aku mencintai Nia. Nia pandai memberi warna dan rasa dalam hidupku. Bagaikan pelangi, ia cerdas memberi warna di setiap lukisan hidupku. Ia sumber tenaga, juga sumber nyawa buatku. Aku benar-benar gila karenanya.

Nia terkadang tidak hadir saat kubutuhkan, sering kali ia mengecewakanku. Namun, hal itu tidak menjadi sebab pudarnya cintaku pada Nia. Kekurangan dan kecacatannya tidak mampu menurunkan derajat cinta pada dirinya. Setiap petak-petak kehidupan telah kulewati bersamanya dan tidak sedikitpun cintaku berkurang kepadanya.

Nia suka berbohong, aku mencintainya segala kebohongannya. Ia suka menipu, aku menyukai segala tipu dayanya. Bahkan, Nia juga mengajariku caranya berdusta, aku mengikuti caranya, sifatnya. Nia telah menjadi bagian penting hidupku. Hidupku penuh kebohongan, kedustaan dan tipu daya. Satu hal yang tidak bisa kudustai, aku mencintai Nia.

Hari-hari berjalan, bulan-bulan berlalu. Pun tahun silah silih berganti. Nia semakin cantik, parasnya semakin cerah, semakin menggoda. Aku dan Nia tak bisa dipisahkan, kami menyatu. Cinta Nia memabukkan, mencintai gadis itu seperti candu. Ia membuatku ketagihan untuk terus mencintainya. Ia membuatku melalaikan orang tua, ia bahkan membuatku melupakan agamaku.

Kini, di saat tubuhku ringkih, tua. Ia masih mencoba menggodaku. Pesonanya masih bersinar, ia bahkan membuatku lupa segalanya. Yang paling aku sesalkan, ia mencoba menjauhkanku dengan Tuhan. Nia sangat pencemburu, segala cara ia lakukan termasuk menjauhkanku dengan Penciptaku. Ia selalu punya cara dan biasanya selalu berhasil, terlebih untuk orang seperti diriku.

Apa aku masih mencintainya? Aku ragu. Apa aku menyesal? Entahlah. Aku tidak punya jawaban yang tepat. Tapi, yang pasti saat ini aku sedih. Kulirik wajah Nia, ia masih mempesona seperti dulu. Aku hampir mati, dan Nia masih memabukkan hati.

Hari ini, hari terakhirku. Ribuan kilometer waktu telah kujelajahi bersama Nia. Aku terbaring, Nia disisiku. Ia masih berusaha menggodaku, pesonanya masih belum luntur. Hanya saja tubuhku sudah tua, tidak lagi bisa lagi menikmati kecantikan Nia.

Aku akan pulang dan mungkin Nia akan pergi memadu cinta dengan orang lain. Ia akan hidup bersama orang lain, merajut kisah cinta bersama mereka. Merayu dan menggoda hingga mereka seperti diriku, melalaikan agama hingga melupakan Tuhan.

***

Sekarang aku berdiri di depan malaikat, aku ingin berjumpa dengan Tuhan, Penciptaku. Malaikat mencegah. "Kau tidak pantas menemui Tuhan. Tuhan yang maha indah belum berhak untuk Kau jumpai. Kau lebih mencintai Dunia, kekasihmu. Bukankah tuhanmu itu Dunia?" kata-kata Malaikat menghujam tubuh lemahku.

"Dunia? Tidak, aku tidak mengenalnya. Aku hanya mengenal Nia, bukan Dunia." Aku tertawa, benarkah aku tidak pantas menemui Tuhanku? Butir-butir kristal kini mengalir manganak-sungai di wajahku. Nia, sekarang kau sedang menggoda manusia mana lagi?


---
Note:
Cerita mini ini pernah diikutsertakan pada lomba Sayembara Cerita Mini Yaman 2016 se-Timur Tengah dan Afrika dengan judul yang sama. Dan alhamdulillah terpilih sebagai salah satu dari 50 naskah terbaik (urutan ke-15).

Baca juga cerpen lainnya: Mahar Berduricerita tentang peliknya persoalan mahar di Aceh dilihat dari kacamata lajang yang tak kunjung merajut hubungan asmara serius nan halal.

Mahar Berduri

shaadiwala.in
 "Saya terima nikah dan kawinnya Fatimah binti Daud dengan mas kawin seikat mawar dibayar tunai," ucap Mahmud tegas. 
Para hadirin terlihat keheranan, sebagian berbisik-bisik, bagaimana mungkin gadis secantik dan secanggih Fatimah di negeri itu dinikahkan ayahnya dengan mas kawin hanya berupa seikat mawar. Hal ini tergolong sangat langka di negeri Achin, negeri tua yang bertetangga dengan Samudra Hindia itu hidup dalam tradisi dan adat yang kental, termasuk dalam tradisi pernikahan. Dan hal seperti ini tak pernah terjadi sebelumnya.

Kejadian yang hampir mustahil ini tentu saja membuat tamu undangan terkesima, seolah tidak percaya, belum lagi yang menjadi mempelai wanitanya bukanlah sembarangan perempuan. Adalah Fatimah, putrinya Tuan Daud, saudagar besar di ibu kota. Fatimah bukan hanya berparas cantik seperti ibunya yang memiliki garis keturunan Arab, ia wanita berpendidikan. Fatimah lulusan ilmu kedokteran di kampus bergengsi di Achin, sebelum akhirnya dipersunting Mahmud. 

Negeri Achin cukup kuat menjaga adat dan tradisi warisan leluhur, terutama dalam tradisi pernikahan dan pesta perkawinan. Mahar yang menjadi syarat nikah haruslah berupa emas yang berjumlah besar. Dalam tradisi keachinan, mahar itu barang gengsi yang tidak termasuk dalam kaidah tawar-menawar.

Dalam perkara mahar, Achin punya standar kuat. Seorang pemuda yang sudah cukup umur layaknya Mahmud misalnya, jika ingin mempersunting seorang gadis biasa lagi sederhana di negeri Achin, maka ia haruslah menyediakan mahar paling minimal senilai sepuluh mayam emas. Mayam adalah takaran resmi emas di Achin, satu mayamnya berkisar 3,3 gram emas. Sehingga jika saja satu mayam emas seharga 1,8 juta dalam nilai standar, maka sepuluh mayam akan berjumlah 18 juta rupiah. Walaupun perempuan negeri Achin terkenal berparas cantik dan terdidik, tetap saja menjadi beban berat bagi pemuda yang terlanjur memaklumatkan cinta dengan perempuan negeri itu.

Jadi, seandainya Mahmud atau siapapun pemuda yang ingin mempersunting gadis berparas cantik serupa Fatimah ditambah jebolan kampus terkemuka, putri dari keluarga terpandang seperti Tuan Daud, pemuda tersebut haruslah ikhlas menyediakan setidaknya dua puluh Mayam emas paling minimal. Dan ini belum termasuk seserahan, uang hangus, isi kamar dan segala tetek-bengek lainnya. Untuk itu, Mahmud tentu harus punya brangkas dengan isi rupiah lebih seratus juta.

Mahalnya mahar wanita Achin inilah yang telah menyebabkan krisis batin sangat mendalam bagi para pemuda dan perjaka di negeri itu. Terlebih, bagi pemuda yang juga mengalami krisis finansial pada waktu yang sama. Umur mereka semakin hari, semakin bulan, semakin tahun, semakin sulit diajak berkompromi dengan waktu.

Jiwa-jiwa yang sejatinya sudah sangat siap menghujani seorang wanita dengan kasih sayang seakan kian dipersulit mendapatkan wadahnya. Tradisi mahar ini telah membelenggu jiwa-jiwa kesepian. Mencerabut harapan pemuda untuk membina kisah cinta yang halal dalam ikatan suci pernikahan.

Maka sangat tak heran jika jamaah para undangan terkejut saat mendengar lafaz ijab qabul Mahmud yang hanya berupa seikat mawar. Jamaah bertanya-tanya, “Apakah Tuan Mahmud sudah hilang akal? Atau ia sedang ikut-ikutan membuat sensasi demi mencalonkan diri di Pilkada tahun depan?”

Namun begitu, kejadian langka ini tentu saja membuat sebagian undangan sedikit bernafas lega. Terdengar bisik-bisik di antara undangan berpendapat, sederhananya mahar putri Tuan Daud ini akan menjadi momen inspirasi bagi orang tua lain untuk menikahkan anaknya dengan mahar yang sederhana, sehingga dapat menurunkan angka kesendirian dan krisis kesepian yang semakin tahun menunjukkan persentase kenaikan di Achin.

Sebagian lagi punya pendapat berbeda. Mahar berupa seikat mawar yang sederhana itu juga turut menyebabkan sebagian kecil tamu undangan berpikir menyimpang. Mereka menganggap mempelai wanita tidak lagi suci sehingga dinikahkan dengan mahar demikian kecil, untuk menyamarkan hal itu digunakanlah seikat mawar agar terkesan romantis.

Meski begitu, mayoritas para undangan tetap berpikir positif dan menganggap ini akan menjadi prosesi akad nikah dengan mahar paling unik dan romantis yang pernah mereka lihat semasa hidup mereka secara langsung di negeri dengan tradisi ketat seperti Achin. 

***

Sementara para undangan sibuk dengan pikiran dan pendapatnya masing-masing, para saksi nikah masih saling berpandangan dan belum juga memberikan jawaban berupa kata "Sah". Mahmud harus mengulang lafaz ijab qabul, yang sempat salah. Sudah tiga kali nafasnya terhenti di kalimat "seikat mawar". 

Para tetamu undangan beserta sanak famili yang berhadir di mesjid terlihat mulai keheranan, Fatimah juga mulai khawatir. Banyak yang tidak mengerti detik-detik sakral seperti itu. Maklum, yang berhadir kebanyakan masih lajang nan bujang yang merapat bersama kelompok kesepian.

Jantung Mahmud berdegub kencang. Keringat tampak mulai terpancar keluar dari keningnya. Setelah menarik nafas panjang dan menghembuskannya, Mahmud berusaha bersikap tenang dan mencoba mengulang kembali:

"Saya terima nikah dan kawinnya Fatimah binti Daud dengan mas kawin seikat mawar yang diikat dengan rantai emas 50 mayam dibayar tunai," ujarnya, seperti laporan inspektur upacara kepada komandan upacara. Tegas.

"SAH!"

Fatimah anak gadis Tuan Daud kini sah menjadi istrinya. Ia kini sudah melewati satu anak tangga, dari fase mencintai menjadi fase memiliki. Wajah Mahmud yang terlihat gelisah tiba-tiba berubah begitu menyegarkan. Tenang dengan sedikit senyuman. Berbeda dengan tamu undangan, mereka masih belum bisa memahami dengan cermat proses akad nikah yang semula sempat dianggap akad nikah dengan mahar sederhana, seikat mawar. Mahar yang tadinya terkesan romantis itu kini hilang. Lenyap bersama angan-angan tamu undangan. 

Sebagian besar tamu undangan yang tadinya keheranan menjadi terkejut. Tamu undangan yang datang bersama kesendirian hidup, kini lemas, seolah waktu sedang berhenti di tempat. Tanpa kemajuan. Tamu undangan yang berharap menemukan belahan jiwa. Para pemuda lajang yang sudah berkepala tiga; kelompok duda dan pria beristri yang sempat berpikir ingin membuka cabang kedua; mereka semua terdiam, menelan ludah pahit dalam-dalam. Gairah kehidupan baru yang sempat mereka rasakan beberapa saat hilang. Menyisakan kebingungan. Sebagian memaki dalam hati. Sebagian lagi memilih bersabar, sabar yang menyakitkan.

"Heh, sudah kuduga. Mana ada wanita yang mau dipersunting dengan seikat mawar...?" Gerutu Agam, seorang diantara para undangan yang tadi sempat berpikir menyimpang.

"Haha, kalau seandainya kau yang menjadi wanita, kau juga pasti tak mau hanya diberi seikat bunga, kan. Kecuali bunga bank...?" Seseorang menyela sambil menghadap Agam.

"Bukankah perempuan suka diberikan bunga, bukankah hal itu terlihat indah, bukankah dan bukankah, hal itu romantis bukan...?

"Romantis...? Jangan terlalu naif Gam, jangan terlalu banyak menonton drama India apalagi Korea. Film mereka hanya menumpulkan panca indera, khususnya realitas akan cinta dan perasaan. Kita tidak hidup di dunia khayal mereka. Bagi sebagian orang, seikat bunga juga simbol bagi sebagian laki-laki yang belum siap serius atau seperti dangkalnya otak kotormu yang sempat beranggapan bahwa calon istri Mahmud tidak lagi suci."

"Tidak serius bagaimana maksudmu...?"

"Laki-laki yang serius bukan memberinya bunga tapi kepastian."

"Yah, itu sudahlah pasti. Bukankah bunga itu sebagai tanda cinta, sedangkan kepastian itu adalah komitmen...?"

"Tahukah kamu Gam, mengapa mahar wanita di negeri ini sangat mahal...? Agar suaminya nanti tidak mudah bertingkah kurang ajar terhadap istrinya. Ia pun pasti akan berpikir ratusan kali jika ingin menjatuhkan cerai kepada istrinya, apalagi setelah memberinya mahar yang banyak. Bukankah perbuatan halal yang sangat dibenci Allah adalah perceraian. Mahar yang besar bukan hanya untuk istri tapi bisa juga digunakan sebagai investasi bagi suami istri kelak jika dibutuhkan dalam keadaan mendesak."

"Bukankah Islam melekat kuat dalam tradisi negeri kita. Tidakkah tuan mendengar Sabda Rasulullah bahwa pernikahan paling berkah ialah pernikahan yang maharnya sedikit?. Seharusnya mahar juga disederhanakan seperti para sahabat Rasul yang dinikahkan hanya dengan mahar sepasang sandal, cincin besi, baju perang usang..."

"Apakah ada pemuda di negeri kita yang kecintaan dan ketangguhan imannya terhadap Islam seperti sahabat Rasulullah, Gam...?" Orang itu memotong kalam Agam dengan cepat, memutuskan kalimat yang belum sempurna terucap, lantas ia melanjutkan.

"Tahukah Kamu, mengapa anak perempuan dalam adat negeri ini mewarisi rumah dan disebut sebagai po rumoh, pemilik rumah? Itu agar jika ada keributan rumah tangga, maka bukan istri yang harus keluar angkat kaki dari rumah, melainkan suami. Adat dan tradisi kita terlalu menjaga kehormatan perempuan, Gam. Sudah sebijaknya bagi kedua pasangan untuk menjaga keharmonisan keluarga terutama suami, karena jika tidak, maka suaminya akan butuh modal besar lagi untuk melamar anak gadis lain di negeri ini," ujarnya sambil tersenyum kecil.

Di saat Agam sedang terlibat diskusi alot, Mahmud dan Fatimah terlihat sedang melakukan sesi pemotretan setelah prosesi akad nikah berakhir. Agam masih juga belum menemukan hubungan antara kehormatan wanita, mahar yang tinggi dan membina rumah tangga. Bagi dirinya yang masih hidup dalam kegelapan perasaan dan dihimpit kesendirian, sulit mengerti teori rumah tangga yang rumit.

Mahar yang tinggi di negerinya itu membuat Agam dan laki-laki senasib dirinya hanya bisa menghadiri upacara dan pesta pernikahan, lalu pulang bersama kesepian. Agam masih belum mengerti, kesendirian yang terlalu lama telah membuat jiwanya tidak lagi sejalan dengan adat istiadat negeri. Adat istiadat telah melukai hatinya.

"Bagaimana dengan cinta...? Bukannya yang lebih dibutuhkan manusia khususnya wanita adalah cinta. Bukannya mahar yang tinggi...? Agam bertanya lagi setelah sempat terdiam beberapa waktu.

"Cinta itu bukan ucapan tapi wujud pembuktian, seberapa banyak lafaz cinta yang kau ucapkan akan tidak berarti tanpa pembuktian. Dan itu tidak cukup dengan seikat mawar, bukan juga segenggam mahar. Tapi setidaknya mahar menjadikan laki-laki terlihat lebih serius, terlihat lebih mapan dihadapan wanita."

"Baiklah tuan, saya tidak ingin memperpanjang perkara ini. Anggap saja saya sedikit mengerti. Apakah Tuan juga menikah dengan perempuan dari negeri ini...?

"Tidak. Belum. Saya sedang mencari bunga, siapa tahu ada diantara tamu undangan itu. Mencari bunga itu seperti meminta hujan di musim kemarau. Harus sering berdoa dan shalat minta hujan yang banyak. Barulah turun hujan."

"Apa hubungannya Tuan...? tanya Agam penasaran.

"Kalau enggak ada hujan, bagaimana mungkin bunga bisa tumbuh dan mekar"

"Hah....? Janganlah Tuan tunggu hujan turun, kita bisa tanam sendiri dan siram sendiri. Setelah itu barulah berdoa agar dia tumbuh dengan baik dan mekar dengan indah," kata Agam, ia melanjutkan.

"Tapi, saya rasa bukan itu masalah tuan. Saya rasa tuan juga belum berhasil mengumpulkan mahar seperti halnya saya," kata Agam mantap. Pria itu menunduk lama. Tak ada lagi jawaban. Tak ada lagi pembelaan. Kalimat terakhir itu menusuk dengan tepat. Kali ini Agam menang. Telak.

***

"Allahu Akbar... Allahu Akbar..." Azan Zuhur terdengar menggema mengisi seluruh lapisan perut mesjid termegah di negeri Achin. Alunannya beriringan, bersamaan saat seseorang menyentuh pundak Agam.

"Gam, Gam, Gaam," orang itu mulai menggoyang pundak Agam. "Bangun Gam, bangun. Lagi Azan, acaranya sudah selesai."

"Maharnya berapa Mat?" Rahmat terdiam saat ditusuk tajam pertanyaan tiba-tiba yang begitu cepat, ia tak berkata apapun. Alis tebalnya terangkat, dahinya berkerut. Rahmat mengingat-ingat maksud pertanyaan kawannya yang baru saja terjaga.

Melihat kawannya kebingungan, Agam mengulang pertanyaan. "Berapa mayam emas mahar Fatimah, Mat...?

"Seikat mawar"

"Serius...? Cuma seikat mawar, tanpa mayam emas. Yang benar saja Mat...?"

Rahmat mengangguk beberapa kali lalu berkata "Makanya kalau lagi prosesi akad nikah, Kau jangan tidur, jadikan pelajaran. Khususnya bagi jomblo dosis tinggi kayak dirimu itu, Gam."

Agam bangun dan tidak lagi memperdulikan ocehan Rahmat, berjalan menjauh. Agam terlalu senang, batinnya gembira. Hatinya terhibur, wajahnya tersenyum. Ia berharap akan ada orang tua lain yang terinpirasi dari sikap saudagar kaya seperti Tuan Daud dan membuat pemuda lain seperti dirinya mudah melamar seseorang.

Agam melangkah keluar mesjid. Mesjid megah berwarna dominan putih dengan kubah hitam itu sudah terlalu banyak menyaksikan sejarah. Dari sejarah cinta raja-raja dan penduduk negeri, hingga sejarah kelam Perang Belanda. Mesjid yang masih tegak berdiri itu juga masih dipaksa menyaksikan perang cinta melawan tradisi dan adat istiadat yang menyatu kuat dengan mahar yang tinggi.

"Tahukah kau Baiturrahman, hari ini cinta telah menang melawan tradisi." Begitulah batin Agam ketika menatap mesjid itu seakan berbicara dengannya. Ia berdiri gagah bak jendral perang Belanda yang baru saja mengalahkan serdadu negeri Achin di perang besar dulu.

Dari kejauhan Rahmat masih melihat Agam tersenyum sendirian di luar mesjid. Apa yang sedang dipikirkan Agam tidak seorangpun tahu, tidak juga dengan Rahmat. Ia hanya menatap kawannya itu dengan keheranan lalu berujar pelan.

"Agam bodoh. Benarkah ia tidak tahu bahwa maharnya Fatimah berupa seikat mawar yang diikat rantai emas 50 mayam? Biarlah, nanti dia juga akan tahu sendiri. Seharusnya dia ikut jejakku, nulis di Steemit, atau jika Bitcoin sudah diharamkan, kuyakin dia cocok jadi Youtuber, siapa tahu bisa kaya mendadak."[]

Note:
Sebelumnya sudah tayang juga di kmamesir.org

Boikot

http://ncclinked.com


Nyak Ni hari ini datang ke rumah, beliau mengeluh pada ibuku, ia baru saja di-PHK pemilik rumah makan tempatnya bekerja. Nyak Ni bersedih, terkadang air mata jatuh membasahi keriput-keriput di pipinya. Ia memiliki beberapa anak, satu anaknya bahkan masih kecil. Suaminya telah meninggal tahun lalu. Belum lepas dari ingatan rasa rindu kepada suaminya, kini bayangan harus mencari kerja di mana menghantuinya.

Nyak Ni tidak mempermasalahkan kantornya, ia tidak juga mempermasalahkan bosnya. Kantornya memberinya upah yang layak, memperlakukannya dengan baik. Sangat baik. Tapi akhir-akhir ini kantornya diserang rumor busuk, bahkan cenderung bernada fitnah.

"Jangan makan di warung itu, makanan di warung itu mengandung zat-zat kimia yang merusak tubuh. Warung itu didapati memakai daging ayam tiren dan daging babi. Warung makan itu kami haram dikunjungi." Nyak Ni menuturkan kembali rumor-rumor yang marak beredar dengan air mata berlinang. 

Nyak Ni sampai harus beristighfar berkali-kali mendengar hal semacam itu, fitnah-fitnah busuk disebar dengan massif. Orang-orang mulai jijik mendengar nama rumah makan itu. Restoran mulai bangkrut. Nyak Ni dan beberapa karyawan lain yang menggantungkan hidupnya di sana terpaksa menelan ludah dan air mata. Nyak Ni, para karyawan bahkan pemilik warung makan sudah melakukan klasifikasi bahwa itu hanya fitnah. Hal itupun nampaknya sia-sia.

Beberapa hari setelah Nyak Ni bersilaturrahmi di rumah, aku melihat rumah makan tempat Nyak Ni kerja sudah tutup. Namun, fenomena menarik terjadi. Sebuah restoran dengan gaya baru, berdiri. Restoran ini mengangkat jargon, "Rumah makan halal, tanpa penyedap dan tanpa unsur babi." Kalimat ini seolah-olah ingin meneguhkan keberkahannya, juga sekaligus menginjak restoran yang sudah runtuh di seberang. Berdiri di atas kesedihan Nyak Ni.

Aku iseng bertanya kepada masyarakat setempat. Warung makan baru ini katanya muncul hanya beberapa hari setelah warung makan yang dianggap “haram” itu ditutup. Sekarang warung makan ini selalu penuh dan ramai, seperti warung makan yang sudah tutup di sebelahnya.

Aku kemudian bertanya kepada beberapa orang, apakah pemilik restoran baru itu terlibat dalam menyebarkan rumor dan berita fitnah terhadap restoran Nyak Ni yang sudah tutup itu. Sebagian mereka tidak tahu, tapi sebagian yang lain mengiyakan. Sebelum pulang, dari luar restoran aku melihat seorang pria berdiri angkuh menatap ke luar jendela, tersenyum ke arah rumah makan Nyak Ni yang telah bangkrut.

Dalam perjalanan pulang, aku kembali teringat pesan Bob Sadino ketika ditanya bisnis apa yang bagus. Kakek Bob saat itu menjawab, "Bisnis yang bagus ialah bisnis yang dibuka, bukan yang ditanyakan." Kalau saja Kakek Bob masih hidup, mungkin aku akan berkata padanya: "Cara berbisnis bagus ialah dengan cara menjatuhkan bisnis orang lain, lalu berdiri di atasnya."

Jalanan masih basah, sisa-sisa hujan tadi malam. Di tengah perjalanan, aku menyempatkan singgah di salah satu gerobak bakso pinggir jalan. Mengunyah bakso di musim hujan bisa menghadirkan kehangatan tersendiri dalam tubuh, walaupun harus terpaksa melihat orang lain dengan pasangan-pasangan sok romantis (kalau ini bukan bikin hangat suasana, tapi tambah panas tubuh dan hati. Panas banget.

Saat sedang makan bakso, seorang pengunjung yang duduk sendiri di ujung berteriak. "Apa-apaan ini, kok bisa ada kecoa dalam mangkuk baksoku."

Pengunjung lain yang mendengar itu terkejut, beberapa terlihat mulai jijik, bahkan seorang wanita memuntahkan sisa-sisa mie di mulut ke wajah kekasihnya. Pemimpin gerobak bakso bergegas ke pengunjung itu, melihat kejadian sebenarnya. Ia sangat yakin, sangat tidak mungkin kecoa kecil itu jatuh ke dalam panci kuah baksonya.

"Kalau Mas masih tidak percaya, silahkan cek panci kuah bakso saya. Tidak ada hal aneh-aneh di sana. Sebelum jualan, saya sudah pastikan ngak ada hal seperti itu. Sayapun tidak tahu mengapa bisa ada kecoa di mangkuk bakso itu."

Dengan lembut ia tetap meminta maaf, dan akan mengganti kerugiannya. Mendengar hal itu bukannya malah memaafkan, ia malah semakin lantang berteriak dan memprovokasi pengunjung lainnya. 

Pelayan yang dari tadi hanya diam dan melihat, mulai marah melihat bosnya dimaki di depannya. Dengan lantang iapun berkata dengan nada tinggi. 

"Jangan-jangan Kau sendiri yang meletakkan kecoa itu yah? Hati-hati kalau ngomong, kami enggak pernah melakukan hal biadab seperti itu."

Keributan yang lebih besar hampir saja terjadi, untung pemilik gerobak bakso langsung menenangkan temannya. Ia cepat-cepat minta maaf sekali lagi kepada pelanggan yang sedang marah itu, juga pada semua pengunjung. 

Semua pengunjung yang terlihat sedang makan bakso semakin keheranan, benarkah bakso yang mereka makan itu mengandung kecoa?

Dari jauh, saat berpaling, sekilas aku menangkap senyum iblis terpantul di wajah pengunjung “kecoa” itu. Mirip senyum pemilik restoran yang tadi kulihat.[]